RAPUHNYA KEBIJAKSANAAN

Untuk melihat dimensi pada tubuh manusia, maka dapat di bedah pada tiga fatsoen, ephitumia, thumos dan Sofia. Ephitumia adalah gerak secara sadar dan alamiah pada diri manusia seperti layaknya manusia lain, mencari makan, minum, prestise, kehormatan dan keamanan.

Thumos—adalah gerak diri manusia pada aspek yang lebih spesifik. Sebab thumos berkaitan dengan “hasrat’ atau keinginan yang digerakkan dengan sadar untukencapai sesuatu yang di inginkan seperti bagaimana hasrat mencapai kekuasaan, jabatan, posisi dan kehormatan yang lebih tinggi. Thumos kalau dianalogikan pada tubuh manusia maka ia berada diantara posisi kepala dengan posisi vitalitas (kelamin). Tingkat emosional manusia ada pada posisi thumosnya.

Nah, bagaimana dengan fatsoen ketiga yang disebut dengan Sofis?….Sofis sendiri diambil dari pecahan kata “Sofia” yang bermakna “bijak”.atau sebagian orang juga menyebutnya sebagai “akal atau pikiran”. Pada tingkatan itu manusia berada pada level kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan adalah inti pengetahuan, disana bersemi kebajikan, kebaikan dan kesadaran alam.pikiran.

Pada posisi ini “kebijaksanaan” sebagai alas dasar bagaimana manusia menjaga trahnya sebagai manusia, saling menjaga, saling mencintai, saling memberi, saling menghargai, saling menghormati, saling memberi pujian, dan semua halĀ² baikĀ  sebagai konsekuensi logis dari manusia sebagai mahluk berfikir.

Kenapa kebijaksanaan itu rapuh? —–
Bisa (mungkin) karena sentimentil akibat kecemburuan sosial. Saling perang secara virtual maupun verbalitas (Erich Fromm, dalam Bahasa yang terlupakan). Menurutnya bahasa adalah instrument penting bagi manusia untuk menciptakan hubungan antar sesama dengan baik. Bahasa memungkinkan manusia mengenal dunia yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan membaca realitas sekalipun. Tetapi kerapuhan kebijaksanaan itu sebab utamanya dilihat bukan karena fonem pengucapnya, tetapi bagaimana manusia menuliskan perasaannya seperti cemburu, dengki, benci, dan lebih ekstrim adalah hasut.

Karena itu, kebijaksanaan perlu terus ditegakkan sebagai simbol akal pikiran (Sofia), sebagai alam sadar pikiran.

# CatatanRingan
Dari sejarah kita membaca.