TANJUNGPANDAN — Pagi itu, Rabu 15 April 2026, terasa berbeda di Belitung. Langit seolah ikut meredup ketika kabar duka perlahan menyebar dari satu layar ke layar lain—melalui pesan singkat di grup WhatsApp komunitas masyarakat Bangka Belitung. Sebuah pesan yang sederhana, namun mengguncang banyak hati: Bang Sidik telah tiada.
Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Di usia 79 tahun, sosok yang selama puluhan tahun menjadi suara dari rasa dan cerita orang Belitung itu akhirnya berpulang, setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya.

Di rumah duka di Jalan Air Ketekok, dekat Masjid Al Imam, suasana haru tak terbendung. Pelayat datang silih berganti, membawa doa, kenangan, dan kehilangan yang sama. Dari rumah sederhana itulah, perjalanan terakhir sang legenda dimulai, sebelum dimakamkan pukul 10.00 WIB di Perkuburan TPU Puring, Kerjan Desa Air Merbau Kecamatan Tanjungpandan Belitung.
Di antara para pelayat, tampak wajah-wajah lama—rekan seperjuangan yang pernah berbagi panggung dan mimpi. Sani, pemain bas era 1960-an dari grup Kumbang Cari, hadir dengan langkah pelan. Kini di usia 78 tahun, ia mengenang sahabatnya dengan senyum tipis.
“Sidik itu bukan cuma nyanyi… dia suka melontarkan lelucon. Bikin suasana hidup,” ujarnya lirih.
Hadir pula Andi, pemain gitar dari grup Kencana dan Stania, serta Amer, pemain bas grup Billiton 1 era 1990-an. Disusul para seniman lain seperti Shofwan AR dan Husni Maryosa—semuanya datang, seolah mengantar bukan hanya seorang kawan, tetapi juga satu bagian dari sejarah.
Seniman yang Menjadi Ingatan Kolektif
Bagi masyarakat Belitung, Bang Sidik bukan sekadar penyanyi. Ia adalah penjaga rasa—seorang seniman yang mampu merangkai pantun, lalu menghidupkannya lewat suara yang sederhana namun menyentuh.
Namanya melekat kuat lewat lagu-lagu ciptaan Jhoni Rodith yang ia bawakan—Nostalgia Tjahaja Malam, Gi Nyungkor, hingga Siti Amena. Lagu-lagu itu bukan sekadar hiburan, melainkan potongan kehidupan: tentang cinta, rindu, dan kampung halaman.
Di setiap baitnya, ada kejujuran. Di setiap nadanya, ada kenangan yang terus hidup di hati masyarakat Negeri Laskar Pelangi.

Dari Panggung ke Ruang Sunyi
Di masa jayanya, Bang Sidik adalah sosok yang selalu dinanti di berbagai panggung. Dari hajatan kampung hingga pertemuan Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung (IKMB), suaranya menjadi pengikat kebersamaan.
Namun waktu perlahan mengubah segalanya. Dalam beberapa tahun terakhir, kesehatannya menurun. Aktivitasnya pun terbatas—lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jauh dari gemerlap panggung yang dulu akrab dengannya.
Meski begitu, semangatnya tak pernah benar-benar padam. Sekitar lima bulan lalu, Senator Bangka Belitung, Ir. H. Darmasnyah Husein, sempat bersilaturahmi ke kediamannya. Dalam kondisi sakit, Bang Sidik tetap menyambut hangat. Percakapan Darmansyah Husein dan Bang Sidik, mengalir penuh cerita dan kenangan—sebuah momen yang kini terasa begitu berharga.

Ketika duka datang pada pagi ini, pada hari Rabu 15/4/2026, Melalui pesan yang disampaikan kepada media, Darmansyah Husein turut menyampaikan duka mendalam. Ia mengaku tidak dapat hadir karena tugas kenegaraan, namun mendoakan agar amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT.
Nafas Terakhir Sang Legenda
Menurut Hasan, Suami dari Siska yang merupakan menantu almarhum, Bang Sidik menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Marsidi Judono sekitar pukul tiga dini hari. Kabar itu menjadi pukulan bagi keluarga, sekaligus masyarakat yang selama ini mengenalnya.
Pihak keluarga juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan almarhum semasa hidupnya—sebuah pesan yang sederhana, namun sarat makna.
Kalangan birokrasi dan mantan birokrasi turut melayat diantaranya, Mantan Kepala Kemenag Belitung Drs. Masdar Nawawi M.M, Mantan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Babel Ir. Nazalyus, dan mantan birokrat diantaranya Ubaidillah, Umar Hasan,
Bahkan, Wakil Bupati Belitung, Syamsir, yang turut melayat, mengaku kehilangan sosok penting dalam dunia seni daerah.
“Kita kehilangan penyanyi legendaris Belitung. Semoga amal perbuatannya diterima di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Warisan yang Tak Pernah Pergi
Kini, Bang Sidik memang telah tiada. Namun suaranya tidak benar-benar hilang.
Ia masih hidup—di radio-radio lama, di acara keluarga, di ingatan mereka yang pernah mendengarnya bernyanyi. Ia hidup dalam setiap nada yang pernah ia lantunkan, dalam setiap hati yang pernah ia sentuh.
Lebih dari itu, ia telah menjadi bagian dari identitas Belitung itu sendiri. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam, namun juga pengingat yang kuat: bahwa seni sejati tidak pernah mati. Ia hanya berpindah tempat—dari panggung dunia, menuju ruang abadi dalam kenangan.
Selamat jalan, Bang Sidik. Suaramu akan selalu pulang ke hati kami.*













