Ritual Selamat Laut di Desa Suak Gual: Wujud Syukur dan Penghormatan para Nelayan kepada Laut, sebagai Sumber Kehidupan

Prosesi Ritual Selamat Laut menawarkan hal itu – pengalaman langsung tentang bagaimana masyarakat lokal menghormati laut sebagai sumber kehidupan

SUAKGUAL: Ritual Selamat Laut kembali digelar di Desa Suak Gual pada Minggu, 13 Oktober 2024. Ritual tahunan ini bukan hanya sekadar prosesi adat, tetapi telah menjelma sebagai wujud syukur dan penghormatan para nelayan kepada laut, sumber kehidupan yang tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat pesisir Belitung.

Suasana khidmat menyelimuti prosesi tersebut. Dihadiri mulai dari Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Laut serta Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Belitung, Febriansyah, hingga Camat Selat Nasik dan Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung, Safwan AR, Bendahara LAM Belitung Wawan Irwanda, turut hadir bersama Kades Suak Gual Hairudin, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Suak Gual, Babinsa, Babinkamtibmas Suak Gual, serta para tetua kampung dan tokoh agama.

Ritual ini, yang telah diwariskan turun-temurun, memiliki makna mendalam bagi masyarakat Suak Gual. Laut bukan sekadar ruang pencarian nafkah, tetapi juga bagian dari identitas budaya mereka.

Maka tak heran, ajakan untuk melestarikan tradisi ini kembali disuarakan. Wakil Ketua LAM Belitung, Safwan AR, menilai ritual Selamat Laut menjadi Kegiatan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung.

“Mari kita jaga laut jangan sampai dirusak dan jaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari,” katanya.

Kearifan lokal yang terkandung dalam Ritual Selamat Laut bukan hanya soal menjaga harmoni antara manusia dan alam, tetapi juga menjadi sarana untuk mempromosikan potensi wisata Suak Gual. Dengan segala pesonanya, desa pesisir ini memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya.

“Saya berharap ritual ini bisa dilestarikan sepanjang masa karena ini adalah tradisi adat yang sudah mengakar kuat,” tambah Safwan.

Kehadiran ritual ini di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Belitung menjadi oase budaya yang tak ternilai. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, semakin tertarik untuk tak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga menggali lebih dalam tentang kehidupan masyarakat pesisir.

Prosesi Ritual Selamat Laut menawarkan hal itu – pengalaman langsung tentang bagaimana masyarakat lokal menghormati laut sebagai sumber kehidupan.

Sementara itu, antusiasme warga pun tak kalah tinggi. Mereka bahu-membahu mempersiapkan segala sesuatunya agar ritual berjalan lancar. Kain-kain tradisional dibentangkan, alat musik tradisional dipukul, doa-doa dikumandangkan, semua dalam upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan di darat dan di laut.

Dengan berjalannya festival ini, Desa Suak Gual semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ikon budaya di Belitung. Prosesi Ritual Selamat Laut menjadi simbol persatuan antara tradisi dan modernitas, antara budaya lokal dan pariwisata yang berkembang pesat. Tahun demi tahun, diharapkan acara ini tak hanya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian laut, tetapi juga menjadi magnet bagi para wisatawan yang ingin merasakan sendiri denyut kehidupan pesisir di Tanah Tambun.

Festival Selamat Laut de Gual 2024 telah usai, tetapi pesannya akan terus bergema. Melestarikan budaya, menjaga alam, dan membuka jalan bagi pariwisata berkelanjutan adalah kunci bagi masa depan Suak Gual dan Belitung secara keseluruhan.*