Selamatan Kampong di Suak Parak Mangrove Desa Air Saga

TANJUNGPANDAN –Tradisi bertemu inovasi dalam acara Selamatan Kampong Desa Air Saga, Kecamatan Tanjungpandan, yang berlangsung meriah pada Sabtu, 12 Juli 2025.

Tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, kegiatan selamatan kampong yang digelar di kawasan Suak Parak Mangrove ini juga dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gratis hasil kolaborasi Pemerintah Desa Air Saga dengan UPT Puskesmas Air Saga.

Acara ini dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Fithrorozi, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung, Achmad Hamzah, Kades Air Saga, Ismanto, Ketua LAM Tanjungpandan, Alpian, Dukun Tua Air Saga Kik Sahar; Dukun Muda Air Saga Hasan, Ketua LAM Air Saga, Zainal.

Kepala Desa Air Saga Ismanto, menyampaikan bahwa biasanya selamatan kampong dilaksanakan di rumah dukun kampung, namun tahun ini dipusatkan di Suak Mangrove sekaligus sebagai langkah baru dalam mempromosikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata desa.

“Mulai tahun ini, selamatan kampong akan menjadi agenda rutin desa. Kita ingin suasananya semakin meriah dan sekaligus mengenalkan potensi wisata Suak Mangrove,” ujar Ismanto.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang hadir dan berpartisipasi, termasuk LAM Kabupaten, LAM Kecamatan, para dukun kampong, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Air Saga. Kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan mendoakan keselamatan desa dari segala musibah.

“Kami pemerintah air saga berkomitmen bersama Puskesmas Air Saga untuk terus memajukan derajat kesehatan masyarakat di Air Saga,” tambah Ismanto.

Sementara itu, Ketua LAM Belitung Achmad Hamzah, turut menyampaikan harapan agar Desa Air Saga semakin maju dengan kekayaan potensi lokal yang dimiliki.
“Air Saga memiliki kekuatan budaya, sawah di tengah desa, potensi wisata Suak Parak, hingga pantai yang indah. Mari kita jaga dan kembangkan bersama,” ucapnya.

Selamatan kampong di Suak Mangrove ini tak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi contoh sinergi budaya dan kesehatan untuk membangun desa yang sehat, lestari, dan berdaya saing.*