SI BUTA DENGAN SEEKOR GAJAH

Di ketika disebuah sekolah luar biasa, seorang guru menguji anak muridnya tentang kebenaran dan perspektif. Lalu sang guru mengatakan kepada muridnya, tentang gajah.

Keempat muridnya pun mengiyakan keinginan gurunya. Maka sang murid pun dibawah gurunya keluar ruangan, dan diarahkan untuk membentuk image tentang gajah.

Murid pertama kemudian menyentuh kaki gajah, lalu dia mengatakan bahwa gajah itu kakinya besar. Murid kedua lalu menyentuh ekornya, lalu ia katakan bahwa gajah itu ekornya panjang. Dan murid ketiga menyentuh gadingnya dan lalu ia katakan bahwa gajah itu memiliki tanduk yang panjang, kemudian murid keempat menyentuh mulutnya dan sontak ia katakan bahwa gajah itu mulutnya panjang.

Lalu seorang guru berkata, bahwa yang Anda sentuh adalah gajah, tetapi kalian membedakannya karena sentuhan dan perasaan, tapi itu juga benar. Dan inilah yang disebut dengan kebenaran perspektif.

Lalu bagaimana dengan “demokrasi”?
Dalam pandangan etimologis Demos dan kratos (pemerintahan rakyat) semua (mungkin) bisa bersepakat sama. Tetapi demokrasi (kita saat ini) berbeda karena perspektif.

Nah, orang buta pun mampu mengamini kebenaran perspektif, lalu kenapa kita yang melek pengetahuan tidak mampu menerima kebenaran perspektif. Termasuk urusan demokrasi—itu akan merujuk pada kebenaran perspektif.

Lalu kenapa kita sebagian harus bertikai karena perspektif kita masingĀ²?,…mungkin kita harus belajar pada si buta yang memahami perspektif sebagai kelaziman atas kebenaran.

#catatan siang.
Gambar hanya pelecut saja.