Harlah ke-28 PAN di Belitung, Dari Doa Bersama hingga Kepedulian untuk Sesama
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Dua puluh delapan tahun bukan sekadar perjalanan waktu bagi Partai Amanat Nasional (PAN). Di usia yang memasuki hampir tiga dekade, semangat reformasi yang menjadi akar kelahirannya kembali ditegaskan melalui sebuah momentum yang sarat makna: Tasyakuran Nasional Hari Lahir (Harlah) ke-28 PAN.
Serentak di seluruh Indonesia, Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), hingga Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN menggelar tasyakuran bersama ribuan anak yatim piatu. Rangkaian kegiatan tersebut dibuka secara serentak oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.
Di Kabupaten Belitung, suasana penuh keakraban dan kekhidmatan terasa di Kantor DPD PAN Belitung. Para kader dan pengurus berkumpul bukan sekadar untuk memperingati bertambahnya usia partai, tetapi juga untuk kembali mengingat pesan awal perjuangan PAN: menjadi bagian dari perubahan dan hadir di tengah masyarakat.
Ketua DPD PAN Belitung, Izar Abdullah, menegaskan bahwa semangat reformasi harus terus menjadi napas perjuangan setiap kader. Menurutnya, kader PAN tidak boleh hanya hadir dalam ruang-ruang politik, tetapi juga harus berada di tengah masyarakat ketika persoalan dan musibah datang.
“PAN lahir dari rahim reformasi, untuk itu kader PAN harus berada di depan dalam setiap gerak pembangunan bangsa. Kader PAN Belitung harus cepat tanggap untuk membantu masyarakat yang mendapat musibah dan selalu peduli terhadap sesama, tidak memandang suku, agama, ras dan adat,” tegas Izar Abdullah saat menyampaikan sambutan.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa politik, bagi PAN, tidak semata-mata berbicara tentang kekuasaan dan kontestasi. Ada tanggung jawab sosial yang harus dijaga, terutama ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan.
Semangat serupa disampaikan Sekretaris DPD PAN Kabupaten Belitung, Harpan Efendi, S.H. Ia melihat Harlah ke-28 sebagai momentum untuk memperkuat kedekatan partai dengan masyarakat sekaligus membuka ruang kebersamaan yang lebih luas.
“Dengan semangat Harlah ini kita berusaha menarik simpati masyarakat untuk bergabung bersama PAN. PAN adalah rumah bersama dengan tidak membeda-bedakan golongan masyarakat. Mari bersama PAN kita membangun Indonesia dan Belitong khususnya,” ujar Harpan Efendi.
Pesan itu terasa semakin relevan karena peringatan Harlah tahun ini tidak berhenti pada seremoni. Kepedulian sosial justru ditempatkan sebagai bagian penting dari perayaan. Kebersamaan dengan anak-anak yatim piatu menjadi simbol bahwa bertambahnya usia sebuah partai juga semestinya diiringi dengan semakin besarnya kepedulian terhadap sesama.
Di Belitung, tasyakuran ditutup dengan doa bersama dan pembagian santunan kepada anak-anak yatim piatu.
Dari sebuah perayaan sederhana, terselip pesan yang lebih besar: bahwa perjalanan 28 tahun PAN bukan hanya tentang panjangnya usia organisasi, melainkan tentang bagaimana semangat reformasi tetap diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Di tengah dinamika politik yang terus berubah, PAN Belitung memilih menegaskan kembali satu hal—bahwa politik akan memiliki makna ketika keberadaannya dirasakan masyarakat, ketika kader hadir saat warga membutuhkan, dan ketika kepedulian tidak mengenal sekat suku, agama, ras maupun golongan.
Harlah ke-28 pun menjadi momentum untuk menatap perjalanan berikutnya. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, PAN berharap dapat terus menjadi bagian dari pembangunan Indonesia, sekaligus tumbuh bersama masyarakat Belitong.
- person
- visibility 307
- forum 0