KPU Beltim Ajak Pelajar Jadi Pemilih Cerdas Lewat Program KPU Menyapa di SMK Muhammadiyah Beltim
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 3 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANGGAR: Usia 17 tahun bagi sebagian pelajar mungkin hanya terasa sebagai pertambahan angka dalam perjalanan hidup. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan satu hak konstitusional yang tak kalah penting: hak untuk memilih dan menentukan arah kepemimpinan bangsa.
Pesan itulah yang dibawa Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) saat kembali menyapa pemilih pemula melalui program “KPU Beltim Menyapa” di SMK Muhammadiyah Belitung Timur, Senin (7/9/2026).
KPU Beltim hadir langsung di tengah para pelajar melalui kegiatan pembina upacara bendera. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan pemilih sekaligus membangun kesadaran demokrasi sejak bangku sekolah.

Di hadapan para pelajar, Anggota KPU Kabupaten Belitung Timur Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Asrikhah, mengingatkan bahwa para pelajar yang sebentar lagi genap berusia 17 tahun akan memasuki fase baru sebagai warga negara.
“Sebentar lagi atau bahkan sudah ada di antara adik-adik sekalian yang akan genap usia 17 tahun. Usia 17 tahun bukan sekadar angka atau tanda bertambahnya umur, melainkan sebuah tonggak sejarah legal, di mana kalian resmi memiliki hak konstitusional untuk ikut menentukan arah kepemimpinan bangsa melalui pemilu dan pemilihan,” ujar Asrikhah.
Menurut Asrikhah, pemilih pemula memiliki peran penting dalam menentukan kualitas demokrasi di masa mendatang. Mereka bukan sekadar kelompok pemilih yang baru pertama kali datang ke TPS, tetapi merupakan bagian dari generasi yang akan menentukan wajah demokrasi ke depan.
Karena itu, pemilih pemula diingatkan agar tidak menggunakan hak suara hanya karena mengikuti pilihan orang lain.
Kenali calon, pahami visi dan misinya, telusuri rekam jejaknya, lalu tentukan pilihan secara sadar.
Setiap suara, kata Asrikhah, memiliki nilai yang sama. Suara seorang pemilih pemula tidak lebih kecil nilainya dibandingkan suara pemilih lainnya.
Genap 17 Tahun, Masuk Kategori Pemilih Baru
Tak hanya berbicara mengenai pentingnya menggunakan hak pilih secara cerdas, KPU Beltim juga memperkenalkan pentingnya Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) kepada para pelajar.
Asrikhah menjelaskan bahwa KPU secara berkelanjutan melakukan pembaruan data pemilih. Pelajar yang telah genap berusia 17 tahun dan memenuhi ketentuan sebagai pemilih akan masuk dalam kategori pemilih baru dalam proses pemutakhiran data tersebut.
Artinya, bertambahnya usia menjadi 17 tahun tidak hanya membawa perubahan status dalam kehidupan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan hak seseorang untuk tercatat sebagai pemilih.
Edukasi mengenai PDPB ini dinilai penting agar para pemilih pemula memahami bahwa menjadi pemilih bukan hanya soal mengetahui kapan pemilu dilaksanakan, tetapi juga memastikan dirinya tercatat dalam data pemilih.
Jangan Apatis, Jangan Mudah Terpengaruh Hoaks
Suasana upacara di SMK Muhammadiyah Belitung Timur berlangsung khidmat. Seluruh pelajar mengikuti kegiatan dengan mengenakan seragam khas sekolah dan berbaris rapi di lapangan upacara.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi di media sosial, KPU Beltim juga mengingatkan para pelajar agar menjadi generasi yang melek informasi.
Pemilih pemula diharapkan tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar, terutama informasi yang belum jelas kebenarannya atau hoaks. Mereka juga diajak menolak segala bentuk politik uang yang berpotensi merusak integritas pemilu dan mencederai demokrasi.

Sementara itu, Marwansyah selaku Ketua KPU Kabupaten Belitung Timur secara terpisah, menjelaskan lebih jauh melalui program “KPU Beltim Menyapa”, KPU Kabupaten Belitung Timur berharap pendidikan demokrasi tidak berhenti pada teori di ruang kelas. Pesan-pesan kepemiluan diharapkan dapat menjadi bekal nyata bagi para pelajar ketika mereka benar-benar menggunakan hak pilihnya.
Sebab, ketika usia 17 tahun tiba, mereka bukan lagi sekadar pelajar yang belajar tentang demokrasi.
Mereka sudah menjadi bagian dari demokrasi itu sendiri. Dan satu suara yang mereka berikan kelak, sekecil apa pun terlihat, memiliki nilai yang sama dalam menentukan arah masa depan.*
- person
- visibility 63
- forum 0