MTB untuk 148 Anak di Pulau Terpencil Beltim Dipastikan Berlanjut hingga 2027
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 4 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANGGAR – Program Makanan Tambahan Bergizi (MTB) bagi anak-anak di sejumlah pulau terpencil Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dipastikan tetap berlanjut hingga 2027. Program yang telah berjalan sejak Januari 2026 ini menyasar 148 anak PAUD dan sekolah dasar di empat wilayah kepulauan.
Kepastian keberlanjutan program tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Beltim, Melta Indah Nurhayati, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan, Penataan, dan Kerja Sama Antar Desa, Dini Triasti Inda Ningsih.
Dini mengatakan, persiapan pelaksanaan MTB tahun depan bahkan telah dilakukan dengan mengirimkan surat kepada pihak kecamatan untuk menunjuk koordinator di desa atau kecamatan.
“Kalau sampai ini tetap pasti jalan. Karena untuk tahun 2027 pun kami sudah mengirimkan surat ke kecamatan untuk menunjuk koordinator di desa atau kecamatan,” kata Dini saat ditemui Diskominfo SP Beltim, Selasa (6/10/2026).
Pada 2026, program MTB menjangkau 148 anak yang tersebar di empat wilayah kepulauan. Sebanyak 99 anak berada di Desa Buku Limau, 18 anak di Pulau Long, 22 anak di Pulau Ketapang, dan sembilan anak di Pulau Batu.
Jumlah penerima tersebut hingga kini masih tetap. Sasaran program merupakan anak-anak PAUD dan sekolah dasar yang tinggal di wilayah pulau-pulau tersebut.
Bukan Makanan Berat
Dini menjelaskan, MTB berbeda dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). MTB dirancang sebagai makanan tambahan sehingga menu yang diberikan bukan berupa makanan berat atau nasi.
Setiap paket MTB bernilai sekitar Rp10 ribu dan diberikan enam hari dalam sepekan, mulai Senin hingga Sabtu. Menu yang diberikan antara lain susu UHT plain kemasan 110 mililiter, telur rebus, serta biskuit atau kudapan lainnya yang diberikan secara bervariasi.
“Ini hanya makanan tambahan bergizi. Kalau makanan nanti akhirnya bentrok dengan MBG. Jadi ada susu kotak UHT plain 110 mililiter, telur rebus dan biskuit atau kudapan yang bervariasi,” jelasnya.
Distribusi Terkendala Cuaca dan Gelombang
Meski terus berjalan, pelaksanaan MTB di wilayah kepulauan menghadapi tantangan tersendiri. Kendala utama berada pada proses distribusi makanan tambahan dari daratan menuju pulau-pulau sasaran.
Menurut Dini, kondisi cuaca dan ketersediaan kapal sangat memengaruhi kelancaran distribusi. Ketika gelombang besar atau kondisi cuaca tidak memungkinkan, kapal tidak dapat berangkat sehingga pengiriman bahan makanan terpaksa ditunda.
“Kendalanya itu untuk drop barang, distribusi. Apalagi yang pulau-pulau, terhalangnya di situ. Kapal tidak bisa mengirim barang. Kadang ada beberapa hari tidak bisa jalan, akhirnya kami tidak bisa drop dan tidak bisa distribusikan ke sasaran, anak-anak pulau,” ungkap Dini.
Kondisi geografis tersebut membuat pengelola harus menyesuaikan pola pelaksanaan MTB dengan jadwal keberangkatan kapal. Ketersediaan bahan makanan di pulau juga harus diperhitungkan agar kebutuhan anak-anak penerima tetap terpenuhi.
Kendati demikian, kendala distribusi tidak menghentikan pelaksanaan program. Pemerintah Kabupaten Beltim bersama sejumlah pihak pendukung terus mengupayakan agar makanan tambahan dapat disalurkan kepada anak-anak sasaran.
Didukung APBD dan CSR
Dini mengungkapkan, pelaksanaan MTB sebelumnya sempat didukung melalui anggaran APBD. Namun, anggaran tersebut hanya mampu membiayai sekitar 47 hari pelaksanaan.
Anggaran tersebut berasal dari pergeseran anggaran kegiatan lain yang kemudian dialokasikan untuk mendukung program MTB.
Selanjutnya, keberlanjutan program turut didukung melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan bantuan dari sejumlah pihak. Beberapa di antaranya yakni PT Timah, Bank Sumsel Babel, serta Forum CSR.
“Selama ini awal tahun, sekitar bulan Maret itu dipakai bantuan Pak Bupati, kemudian PT Timah, Bank Sumsel, lalu ke Forum CSR,” ujar Dini.
Dengan jumlah penerima mencapai 148 anak, kebutuhan anggaran program dalam satu bulan dapat mencapai puluhan juta rupiah. Besaran kebutuhan tersebut menyesuaikan jumlah hari pelaksanaan karena terdapat hari libur sekolah maupun hari besar.
Keberlanjutan MTB dinilai penting bagi anak-anak di wilayah kepulauan Beltim. Selain menghadapi tantangan akses transportasi dan distribusi, anak-anak di pulau terpencil juga memiliki kebutuhan asupan gizi yang perlu mendapat perhatian.
Program MTB menjadi salah satu bentuk dukungan tambahan asupan bergizi bagi anak-anak PAUD dan sekolah dasar di wilayah kepulauan sekaligus memastikan keterjangkauan program pemerintah bagi anak-anak yang tinggal jauh dari wilayah daratan. *.Sumber: Diskominfo-SP-Beltim
- person
- visibility 61
- forum 0