Breaking News
Trending Tags
Beranda » Bangka Belitung » Dari Timah, Tata Ruang hingga Sampah: KD-17 Belitong Soroti Masa Depan Pulau dan Nasib Rakyat

Dari Timah, Tata Ruang hingga Sampah: KD-17 Belitong Soroti Masa Depan Pulau dan Nasib Rakyat

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TANJUNGPANDAN — Malam mulai larut di Aik Serkuk Dalam, Tanjungpandan. Namun, pembahasan tentang masa depan Belitong justru semakin hangat.

Di Sekretariat Komunitas Diskusi 17 (KD-17) Belitong, Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 19.45 WIB, sejumlah tokoh dan anggota komunitas duduk bersama membicarakan berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Bukan hanya soal timah. Dari meja diskusi itu, muncul berbagai isu mulai dari smelter sitaan, tata ruang, kawasan pesisir, ketahanan pangan, sampah kota, lahan terlantar, hingga masa depan Belitong sebagai pulau yang kini ditetapkan sebagai kawasan bebas karbon.

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua KD-17 Belitong Rizali Abusama, Sekretaris KD-17 Haji Hasyimi Usman, serta narasumber Ir. Nazalius dan Zulfriandi Afan. Sejumlah anggota lainnya, termasuk Ruspandi, Supar, Cacan, Abu Bakar Idrus, turut menyampaikan pandangan.

Pertemuan dibuka Sekretaris Haji Hasyimi Usman dengan agenda membahas persiapan materi revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sikap KD-17 terhadap hasil pertemuan dengan pemerintah pusat, tindak lanjut pernyataan sikap sebelumnya, hingga menyikapi Kepmen ESDM Nomor 84 tanggal 26 Februari 2026.

Ketika Timah Bersinggungan dengan Kehidupan Rakyat

Ketua KD-17 Belitong Rizali Abusama mengatakan, dalam pertemuan ini dibahas berbagai persoalan yang utama seperti pertimahan. Menurutnya, dinamika kebijakan pemerintah pusat maupun daerah mengenai timah pada akhir akhir ini berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Belitong.

Ia mencontohkan persoalan pertimahan yang membutuhkan solusi, bukan sekadar menjadi persoalan yang terus berulang. Bagi KD-17, pembahasan pertimahan tidak semata-mata berbicara mengenai produksi dan industri. Di baliknya terdapat masyarakat yang menggantungkan kehidupan keluarga dari aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan komoditas tersebut. “Persoalan pertimahan di Belitong perlu dicarikan solusi,” menjadi salah satu penekanan dalam pertemuan tersebut disamping pembahasan yang lainnya.

Smelter Sitaan, Mengapa Belitong Belum Bergerak?

Sorotan lebih tajam disampaikan Narasumber Ir. Nazalius. Ia mempertanyakan kejelasan status dugaan sejumlah smelter yang telah menjadi barang sitaan. Menurutnya, apabila sebuah aset telah disita, maka dokumen dan kewenangan pengelolaannya harus jelas.
“Barangnya disita, tetapi suratnya harus jelas. Status dan siapa yang diberikan kewenangan untuk mengelola juga harus terang,” ujar Nazalius.

Ia mengaku mengetahui adanya informasi bahwa sejumlah dugaan smelter sitaan di kawasan Jelitik, Kabupaten Bangka, mulai dibenahi dan diduga mulai kembali berproduksi.

Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat di Belitung. Smelter di Kelapa Kampit disebut belum berjalan.

Perbedaan kondisi inilah yang menurut Nazalius perlu mendapatkan penjelasan dari pemerintah.

Karena itu, KD-17 mendorong adanya surat resmi kepada Kementerian ESDM dan Danantara untuk meminta penjelasan mengenai status smelter tersebut.
Jika aset tersebut belum diserahkan kepada PT Timah, menurut Nazalius, perlu ada kejelasan mengenai siapa yang akan mengelolanya, termasuk kemungkinan diserahkan kepada BUMD.

“Kalau memang belum diserahkan ke PT Timah, harus jelas apakah kemudian diserahkan kepada BUMD daerah atau bagaimana mekanismenya,” ujarnya.

Kepmen ESDM Nomor 84 Dipersoalkan
Pembahasan kemudian bergeser ke persoalan tata ruang. Nazalius menyatakan perlu disikapi secara serius Kepmen ESDM Nomor 84 tanggal 26 Februari 2026 karena keputusan tersebut dinilai bertentangan dengan tata ruang yang masih berlaku serta berkaitan dengan ketentuan perundang-undangan mengenai wilayah pesisir maupun Perda RZWP3K.
Menurutnya, kebijakan pemanfaatan ruang tidak boleh berdiri sendiri tanpa memperhatikan dokumen tata ruang yang telah berlaku.

Kacang Butor dan Ruang Hidup Warga

Kawasan Kacang Butor turut menjadi sorotan. Dalam diskusi KD 17, menilai adanya kawasan hutan kota yang berlokasi di kacang butor, dan perlu dipertanyakan status kawasan ataupun apakah masuk dalam kawasan pemukiman.
Sebab, persoalan tata ruang pada akhirnya menyangkut ruang hidup masyarakat. Karena itu, kawasan permukiman, ruang terbuka, kawasan penyangga, hutan kota, dan kepentingan pembangunan harus ditempatkan dalam satu perencanaan yang utuh.

Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada tambang dan tata ruang. Nazalius mengingatkan kembali pentingnya pelaksanaan kegiatan ikrar Simpang Tiga yang menurutnya perlu dilaksanakan secara bergilir, baik di Belitung Timur maupun wilayah Bangka Belitung lainnya. Ia juga menyoroti status Belitong yang kini ditetapkan sebagai pulau bebas karbon. Menurutnya, predikat tersebut harus benar-benar diterjemahkan dalam kebijakan nyata, bukan hanya menjadi slogan.

Sampah 35 Ton perhari

Hal senada disampaikan Narasumber, Zulfriandi Afan. Ia menilai pembicaraan mengenai bebas karbon harus berjalan beriringan dengan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Salah satunya adalah sampah perkotaan yang disebut mencapai sekitar 35 ton per hari.
“Free carbon memang digaungkan, tetapi masalah persampahan kota juga lebih penting untuk segera diselesaikan,” menjadi salah satu perhatian dalam diskusi tersebut.

Bagi Zulfriandi, bagaimana mungkin berbicara mengenai lingkungan yang bersih dan rendah karbon jika persoalan sampah di pusat kota sendiri belum tertangani secara optimal.
Ketahanan Pangan Jangan Sampai Hilang
Zulfriandi juga membawa persoalan ketahanan pangan ke meja diskusi. Menurutnya, Belitong perlu memikirkan kemampuan daerah dalam menyediakan pangan ketika menghadapi kondisi sulit. Ia menyebut ketahanan pangan daerah saat ini perlu diperkuat karena kemampuan bertahan yang ada dinilai hanya sekitar dua bulan.

Karena itu, lahan-lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai kawasan ketahanan pangan perlu dikembalikan pada fungsi semula. “Lahan yang dulunya untuk ketahanan pangan perlu dikembalikan ke fungsi semula,” ujarnya. Persoalan tersebut dianggap semakin penting di tengah perubahan penggunaan lahan yang terus terjadi.

Lahan Terlantar hingga Pemakaman

Zulfriandi juga menyoroti keberadaan lahan terlantar, termasuk lahan dengan status HGB yang disebut telah lama tidak dimanfaatkan.
Ia mencontohkan kawasan Belitung selatan, yang disebut telah lebih dari 10 tahun tidak dimanfaatkan secara optimal, termasuk lahan HGU di kawasan Aik Merbau.

Menurutnya, pemerintah perlu melakukan pendataan dan evaluasi terhadap lahan-lahan yang terlantar agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sesuai ketentuan.
Selain itu, kebutuhan lahan pemakaman juga dinilai perlu masuk dalam perencanaan tata ruang.

Bagi Zulfriandi, pembangunan kota tidak cukup hanya menyediakan kawasan komersial dan permukiman. Pemerintah juga harus memikirkan fasilitas publik yang dibutuhkan warga hingga puluhan tahun ke depan.

Kota Butuh Wilayah Penyangga

Persoalan tata kelola kota juga menjadi perhatian Zulfriandi. Ia menilai perlu ada wilayah penyangga kota yang direncanakan secara jelas. Bahkan, menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan regulasi berupa perda mengenai kawasan penyangga kota.

Konsep tersebut dinilai penting agar pertumbuhan Tanjungpandan dan kawasan perkotaan lainnya tidak berkembang tanpa kendali.
“Wilayah penyangga kota perlu dibuat dan tata kelolanya harus jelas,” menjadi salah satu gagasan yang mengemuka.

RTRW Harus Berpihak pada Kepentingan Rakyat

Sementara itu, Abu Bakar Idrus mengatakan seluruh materi yang dibahas dalam forum tersebut nantinya perlu dirumuskan menjadi bahan dialog dan sikap KD-17.
Menurutnya, pembahasan revisi RTRW harus benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat. “Materi dialog nantinya disampaikan KD-17 dan harus diberikan sesuai dengan kepentingan rakyat,” ujarnya.

Timah Ilegal Jangan Dibiarkan

Di penghujung diskusi, anggota KD 17 Belitong Cacan turut menyampaikan sikap mengenai pemberantasan penyelundupan timah.
Ia menyatakan dukungan terhadap pihak-pihak TNI AL yang berhasil menggagalkan upaya penyelundupan timah dan meminta agar penindakan terhadap praktik ilegal dilakukan secara tegas.

Menurutnya, keberadaan aktivitas timah ilegal tidak hanya merugikan negara, tetapi juga dapat menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas sesuai aturan.

Sedangkan Bung Supardi, yang hadir sampaikam keperihatinan dengan kondisi Belitung saat ini, dan perlu kembali diselamatkan dan berharap agar ke depan menjadi lebih baik dan berdampak untuk kepentingan masyarakat. Ia menyoroti soal RTRW yang tengah dibahas jangan sampai keblabalasan, namun perlu kajian serius dan benar benar bermanfaat bagi rakyat.

Bukan Sekadar Diskusi

Pertemuan KD-17 malam itu memperlihatkan satu benang merah: berbagai persoalan Belitong saling berkaitan.
Timah bersinggungan dengan ekonomi keluarga. Smelter berkaitan dengan kepastian investasi dan pengelolaan aset. Tata ruang menyentuh rumah dan tanah masyarakat. Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan lahan. Sementara persoalan sampah dan karbon berbicara tentang kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, bagi KD-17 Belitong, diskusi tidak boleh berhenti sebagai percakapan di ruang sekretariat.
Berbagai pandangan yang muncul akan dirumuskan menjadi bahan untuk menentukan sikap dan disampaikan kepada pihak-pihak terkait.

Sebab pada akhirnya, di balik setiap kebijakan tentang tanah, timah, tata ruang dan lingkungan, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: ruang hidup dan masa depan masyarakat Belitong.*

  • person
  • visibility 276
  • forum 0
Bagikan Threads

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seluruh DPD Gabpeknas Kabupaten/Kota  di Babel Sudah Terbentuk

    Seluruh DPD Gabpeknas Kabupaten/Kota di Babel Sudah Terbentuk

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2017
    • account_circle sma
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gabpeknas (Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah terbentuk dari tujuh kabupaten/kota di wilayah Bangka Belitung. Hal itu diungkapkan Drs Asmawi Asmad MSi, Ketua DPW Gabpeknas Babel kepada trawangnews.com saat mengikuti Munas Gabpeknas Indonesia tahun 2017 yang berlangsung di Grand Hotel Cempaka Jakarta Pusat, pada beberapa waktu yang lalu. […]

  • Selamat, Bandara H.AS Hanandjoeddin Raih Predikat Bintang 3 Silver untuk Toilet dari Asosiasi Toilet Indonesia

    Selamat, Bandara H.AS Hanandjoeddin Raih Predikat Bintang 3 Silver untuk Toilet dari Asosiasi Toilet Indonesia

    • calendar_month Kamis, 7 Des 2023
    • account_circle sma
    • visibility 95
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: TRAWANGNEWS.COM: Bandara H.AS Hanandjoeddin di Tanjungpandan baru-baru ini meraih prestasi gemilang setelah dinilai oleh Asosiasi Toilet Indonesia (ATI). Dalam Assessment yang berlangsung dari bulan Juni hingga November 2023 di 20 Kantor Cabang PT Angkasa Pura II, Bandara ini berhasil memperoleh predikat 3 Bintang Silver dalam kategori Bandara KSP yang dikelola oleh PT Angkasa Pura […]

  • Serka Gatot S, Babinsa Desa Baru Laksanakan Komsos Bersama Warga Binaan di Wilayah Kecamatan Manggar

    Serka Gatot S, Babinsa Desa Baru Laksanakan Komsos Bersama Warga Binaan di Wilayah Kecamatan Manggar

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle sma
    • visibility 95
    • 0Komentar

    MANGGAR – Anggota Koramil 414-02/Manggar, Serka Gatot S, Babinsa Desa Baru melaksanakan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) bersama warga binaan di salah satu warung kopi di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, pada Minggu (28/9/2025). Kegiatan Komsos tersebut dilakukan sebagai upaya mempererat silaturahmi antara TNI dengan masyarakat. Dalam kesempatan itu, Serka Gatot mengajak warga untuk selalu menjaga […]

  • Aksi Sosial di TPQ Alaqso di Hari Jumat Ini

    Aksi Sosial di TPQ Alaqso di Hari Jumat Ini

    • calendar_month Jumat, 22 Okt 2021
    • account_circle sma
    • visibility 47
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Alhamdulillah bertemu lagi kita dengan Jumat mulia, penghulu dari segala hari. Shalawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan umat beliau. Program Jumat ini, kita akan membeli Detergen untuk Kebutuhan pondok pesantren. Oleh sebab itu kami mengajak ayah dan bunda untuk ambil dalam program kebaikan ini. Selain untuk Pembelian Detergen, dana Yang Terkumpul […]

  • Wakil Bupati Belitung Hadiri Syukuran Adat Gedung PLUT KUKM Premium Binaan Dinas KUKMPTK Kabupaten Belitung

    Wakil Bupati Belitung Hadiri Syukuran Adat Gedung PLUT KUKM Premium Binaan Dinas KUKMPTK Kabupaten Belitung

    • calendar_month Kamis, 5 Jan 2023
    • account_circle sma
    • visibility 51
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie S.Sn, MSi hadiri acara syukuran secara adat telah dioperasionalkannya pemakaian gedung PLUT KUKM yang baru yang menjadi PLUT premium binaan Dinas KUKMPTK (Koperasi , Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja) Kabupaten Belitung, yang beralamat di jalan Bambang Utoyo (eks Pasar Inpres kelurahan Parit) Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, pada […]

  • Saran Masyarakat, Bupati Harus Tolak Usulan Rencana Het LPJ Gas

    Saran Masyarakat, Bupati Harus Tolak Usulan Rencana Het LPJ Gas

    • calendar_month Kamis, 20 Des 2018
    • account_circle sma
    • visibility 57
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Tokoh Pemuda Belitung Fadhil Jamali berharap agar Bupati Belitung H Sahani Saleh jangan menandatangani rencana usulan HET (Harga Eceran Tertinggi) rencana het lpj gas Rp 23000 / tabung 3 kg di Kabupaten Belitung. Hal ini tak sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini dalam kesusahan. “Karena ini program subsidi pemerintah soal lpj gas untuk tabung […]

expand_less