Desa Perawas Rayakan Hari Jadi ke-174: Wujud Syukur, Sejarah, dan Semangat Bersatu Membangun

TANJUNGPANDAN, BELITUNG –Suasana haru, semangat, dan kebersamaan menyelimuti halaman Kantor Desa Perawas, Kecamatan Tanjungpandan, Kamis 26 Juni 2025 saat masyarakat memperingati Hari Jadi Desa Perawas ke-174.

Meskipun perayaan ini berlangsung sebulan setelah tanggal historis 26 Mei, semangat dan maknanya tetap utuh dalam balutan tema “Berkarya Bersama, Membangun Perawas yang Berdaya dan Bermartabat.”

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk penghormatan, terhadap jejak sejarah panjang Desa Perawas yang resmi berdiri sejak 26 Mei 1851. Perjalanan panjang ini dimaknai secara khidmat oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga generasi muda.

Turut hadir dalam perayaan ini antara lain Ivan Haidari, anggota DPRD Kabupaten Belitung, Dinas Koperasi Usaha Menengah Kecil Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung, Bendahara Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung Wawan Irwanda, Tokoh pendidikan Desa Perawas Hermiadi, Ketua BPD Perawas Suhardi, Bhabinkamtibnas Devri Kurnia, Babinsa Sudartono, Ketua Lembaga Adat Desa Perawas, Adriadi, Kades Air Raya Rustam Ludin, Para tokoh masyarakat, dukun, dan warga dari berbagai kalangan

Dalam sambutannya, Kepala Desa Perawas Yahya Sarjana Eķonomi, menegaskan bahwa penetapan hari jadi desa telah melalui proses musyawarah yang partisipatif, rembug adat, dan penggalian literatur sejarah yang melibatkan banyak pihak.

Salah satunya adalah melalui pembentukan Tim Perumus Hari Jadi Desa yang dibentuk lewat Surat Keputus Kades perawas Nomor 23 Tahun 2024.

“Mereka yang dilibatkan dari unsur masyarakat diantaranya lembaga adat, tokoh sejarah, Komunitas Pelestarian Sejarah dan budaya peninggalan tanah Belitong atau disingkat KPSB Peta Belitung Muchlis Abdul Hamid, Budayawan Belitung Salim YAH. Dan Hari jadi ini tentunya, bukan hanya soal seremonial, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah dan para pendahulu yang telah berjasa membangun Desa Perawas,” ujar Yahya.

Adapun Kajian sejarah desa, didasarkan pada dokumen kolonial Belanda tahun 1851, yang menyebut kampung kecil bernama Trawas—cikal bakal Desa Perawas—dengan tiga rumah awal. Data ini diperkuat oleh arsip tahun 1864, 1875, serta dokumen resmi Republik Indonesia tahun 1953.

H. Salim YAH, budayawan Belitung yang tergabung dalam tim perumus, menambahkan bahwa penetapan ini bukan asal-asalan, melainkan hasil dari pengumpulan data valid, rembug lintas generasi, serta referensi sejarah lokal.

“Kami menggali informasi dari berbagai sumber dan berdiskusi intensif, dengan para narasumber sejarah seperti Muchlis dari KPSB Peta Belitong, serta pelaku adat dan budaya lokal lainnya,” ungkap Salim.

Apresiasi bagi Para Pejuang Desa

Momen paling menyentuh dalam peringatan ini adalah, penyerahan piagam penghargaan dan bingkisan, kepada para mantan kepala desa sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka. Nama-nama seperti Sabirin Shahadid, Ahmad S, Rahmat SY, hingga Zulfikar disebutkan dan diwakili oleh keluarga mereka.
Tokoh pendidikan, Hermiadi turut menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan:

“Selamat Hari Jadi Desa Perawas ke-174. Semoga semangat Berkarya Bersama terus mengakar dalam membangun desa yang berdaya dan bermartabat.”

Perayaan Hari Jadi Desa Perawas ke-174 ini, menjadi refleksi bahwa kemajuan tidak akan berarti tanpa mengingat asal-usul. Dengan semangat kolaborasi, penghormatan pada budaya, serta gotong royong lintas generasi, Desa Perawas siap menatap masa depan dengan identitas yang kuat dan jati diri yang kokoh.*