TANJUNGPANDAN – Ada yang berbeda di Bills Coffee, Rabu pagi hingga siang (11/6/2025). Di kedai sederhana yang terletak di kawasan Terminal Bis Lama, Tanjungpandan, tak jauh dari PMI Belitung, aroma kopi menyatu dengan tawa hangat, obrolan bernuansa nostalgia, dan lantunan lagu-lagu tembang lawas yang membawa ingatan melintasi waktu.

Bills Coffee hari itu tidak sekadar menjadi tempat ngopi. Ia menjelma jadi ruang temu bagi jiwa-jiwa yang pernah tumbuh bersama era 70-an hingga 90-an, ruang silaturahmi yang menyatukan ragam generasi—dari para pencinta seni, pelaku usaha kreatif, wartawan lokal, hingga tokoh masyarakat dan pemuda.
Semua bermula dari ide sederhana. Hardijanto, yang akrab disapa Pak Toto—seorang anggota aktif dari KOTELA (Komunitas Tembang Lawas) Belitong—mengusulkan untuk mengadakan pertemuan kecil di warung kopi langganan mereka. Gayung pun bersambut. Amer, pengelola Bills Coffee, menyambut dengan antusias, dan rekan-rekan komunitas turut mendukung.
“Ini murni dari inisiatif teman-teman yang sering ngopi di sini. Apalagi Pak Totok dengan luar biasa menyiapkan makan siang untuk semua,” ujar Amer, operator musik Billitonik era tahun 1980an yang juga orang tua dari Bill Randi, sang pemilik Bills Coffee,
Makan siang yang disajikan pun bukan makanan mewah, tetapi justru menggugah rasa dan kenangan. Sayur asam segar, sambal rumahan yang pedas menggoda, hingga ikan asin goreng yang renyah—menu yang membawa kembali ingatan akan makan siang di rumah nenek atau masa kecil di kampung halaman.
Namun kehangatan itu tak berhenti di meja makan. Puncaknya terjadi saat gitar mulai dipetik, dan lagu-lagu nostalgia mulai mengalun. Lagu-lagu dari masa keemasan pop Indonesia, yang pernah menemani cinta pertama, malam minggu remaja, atau patah hati pertama, mengisi udara siang itu. Bahkan Desi Christiani, penyanyi Depaz dan topaz, di era tahun 90an juga ikut menyempatkan hadir untuk menghibur dan menyanyikan beberapa lagu nostalgia.
Para anggota KOTELA, dengan inisiatif, menyumbangkan suara dan cerita. Tidak ada panggung megah, hanya iringan tepuk tangan dan tawa dari penonton yang larut dalam suasana.
Hadir pula Ketua KOTELA Belitong, Yusri—yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Bang Candon, pemain Keyboard dan Bas tahun tahun 80an, Dengan gaya santai dan karisma khasnya, penuh semangat dan juga energi positif yang menghangatkan seluruh acara.
“Di tengah dunia yang serba cepat, silaturahmi seperti ini jadi sangat berarti. Musik itu jembatan kenangan, dan kenanganlah yang menyatukan kita,” ujar Bang Candon sambil tersenyum.

Di hari itu, Bills Coffee bukan lagi sekadar warung kopi di pinggir terminal. Ia menjelma menjadi titik temu, tempat di mana kenangan masa lalu berbaur dengan kehangatan masa kini. Di balik secangkir kopi dan irama lagu lawas, tercipta ruang untuk tertawa, mengenang, dan merasa kembali muda.
Karena kadang, pertemuan paling bermakna bukan yang direncanakan megah, melainkan yang hadir dari hati yang tulus, dari niat untuk saling menyapa, dan dari secangkir kopi yang diseduh dengan kenangan.*



















