TANJUNGPANDAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung terus menggiatkan program rumah pilah sampah dan pemasangan lubang biopori di sejumlah wilayah. Program ini bertujuan untuk menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Gunung Sadai, yang saat ini tengah berproses mengubah sistem dari open dumping menjadi sanitary landfill.
TPA Gunung Sadai sebelumnya memperoleh peringatan dari Kementerian Lingkungan Hidup karena masih menerapkan sistem pembuangan sampah terbuka (open dumping). Oleh sebab itu, DLH Belitung mendorong upaya pengelolaan sampah dari hulu, yakni langsung dari sumbernya.
Plt Kepala DLH Belitung, Yudo Wijantoko mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus menekan volume sampah yang dibuang ke TPA.
“Jadi sampah yang masuk ke TPA itu lebih sedikit dan memang sudah residu,” ujar Yudo.
Ia menjelaskan, DLH saat ini menggalakkan program rumah pilah dan lubang biopori dengan melibatkan peran aktif desa dan kelurahan. Warga diajak memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, sedangkan sampah organik dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah menjadi kompos alami.
“Kombinasi keduanya mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, mengubah sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat, dan meningkatkan daya resap air tanah,” jelas pejabat lulusan Universitas Indonesia itu.
Hingga kini, sudah ada dua kelurahan yang menerapkan program tersebut, yaitu Kelurahan Parit dan Kelurahan Damai. Di Parit telah terpasang enam rumah pilah dan 12 lubang biopori, sementara di Damai ada empat rumah pilah dan delapan biopori.
“Mereka sudah siap memilah sampah dan satu rumah itu terpasang dua unit lubang biopori,” tambah Yudo.
Selanjutnya, DLH akan menyasar Kelurahan Kota Tanjungpandan serta membuka kesempatan kepada seluruh desa dan kelurahan yang ingin mengajukan penerapan program tersebut. Pendataan dilakukan oleh pemerintah setempat agar tepat sasaran kepada warga yang memiliki kesadaran dalam pengelolaan sampah.
Ia optimistis jika program rumah pilah dan biopori diterapkan secara masif selama lima tahun kepemimpinan Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat dan Wakil Bupati Syamsir, maka permasalahan sampah di Belitung dapat diminimalisir bahkan teratasi.
“Persoalan sampah itu masalah bersama, terutama kesadaran masyarakat masing-masing. Jadi ayo kita bersama wujudkan Belitung bersih dari sampah,” tutupnya.*



















