TANJUNGPANDAN — Kamis siang, 9 Oktober 2025, langit Tanjungpandan tampak cerah. Di sudut terminal lama, tak jauh dari Kantor PMI Belitung, Jalan Jenderal Sudirman, Tanjungpandan Kabupaten Belitung, suasana akrab dan hangat menyelimuti Bill’S Coffee. Kafe yang biasanya menjadi tempat bersantai ini, siang itu, menjelma menjadi ruang pertemuan bagi para pencinta musik tembang lawas yang tergabung dalam Kotela (Komunitas Tembang Lawas).
Di tengah kepulan aroma kopi dan teh hangat, alunan lagu pop nostalgia terdengar mengalun lembut dari sudut ruangan. Yusri—akrab disapa Candon—yang juga Ketua Kotela Belitung, menjadi penggerak suasana. Jemarinya menari di atas keyboard, menghadirkan irama santai yang seolah membawa pengunjung menelusuri kenangan masa silam.
Satu per satu lagu pun menggema, membalut ruangan dengan keakraban. Lagu legendaris “Juwita Malam” dibawakan merdu oleh Elisalasti atau panggilan ngetopnya, Mbak Nunung. Disusul dengan “Sai Anju Ma Au” oleh Kotela Amer—yang selain menjadi vokalis, juga piawai memainkan keyboard bersama grup Bilitonic.
Suasana makin syahdu saat Mas Harri melantunkan “My Way” dan beberapa tembang keroncong, membuat yang hadir hanyut dalam nuansa romantik tempo dulu.
Tak kalah memikat, Yosep Surachman membawakan “Sungai Musi” dengan penuh perasaan. Lantunan nada itu mengalir lembut, menyentuh hati para penikmat yang larut dalam nostalgia. Penampilan berikutnya datang dari Koswara dan Robi, yang masing-masing menyanyikan “Bawalah Cintaku” dan lagu andalan “Kau”.
Kemeriahan semakin lengkap dengan kehadiran Penasehat Kotela, Pak Iping. Siang itu, ia datang dengan senyum hangat, menyapa satu per satu anggota komunitas. Tak butuh waktu lama, para penikmat musik langsung mendaulatnya untuk naik ke panggung kecil kafe tersebut. Lagu “Titik Noda” pun ia bawakan sebagai lagu wajibnya, disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung.
“Senang sekali bisa berkumpul dan bernyanyi bersama. Musik itu menyatukan,” ujar Pak Ipeng dengan wajah berseri.
Pertemuan sederhana itu bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, Kotela menunjukkan perannya sebagai ruang kebersamaan di tengah masyarakat. Lewat lagu-lagu nostalgia, komunitas ini mengajak siapa saja untuk sejenak berhenti dari rutinitas, menikmati waktu, menyeruput kopi, dan tertawa bersama.
Di Bill’S Coffee, siang itu musik bukan hanya hiburan—tapi jembatan kenangan.*













