Inflasi Beltim Capai 2,25 Persen, Harga Emas Jadi Penyumbang Utama

Pemkab Beltim juga akan terus mendorong sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memastikan distribusi lancar, serta mengantisipasi potensi gejolak harga ke depan

MANGGAR: Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) tercatat sebesar 2,25 persen pada Maret 2026. Kenaikan harga emas menjadi penyumbang utama inflasi di daerah tersebut, terutama di tengah tekanan harga selama Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

Data ini disampaikan dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK)/Inflasi Maret 2026 dan Pertumbuhan Ekonomi 2025 yang digelar di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Beltim, Rabu (1/4/2026) sore.

Statistisi Ahli Madya BPS Beltim, Fetia Nursih Widiastuti, mengungkapkan bahwa inflasi tahunan sebesar 2,25 persen tersebut diikuti dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,56.

“Emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,98 persen dari total inflasi. Hampir satu persen, ini cukup dominan,” ujarnya.

Menurut Fetia, kenaikan harga emas dipengaruhi oleh kondisi global dan geopolitik, sehingga tidak dapat diintervensi secara langsung oleh pemerintah daerah.

“Emas itu masuk inflasi inti dan dipengaruhi kondisi dunia. Jadi tidak bisa dikendalikan di daerah,” jelasnya.

Selain emas, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut menyumbang inflasi sebesar 1,47 persen. Peningkatan ini dipicu oleh naiknya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri.

Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,31 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 0,33 persen, yang masih berada dalam rentang target nasional.

Ekonomi Beltim Tumbuh Positif

Di tengah tekanan inflasi, kinerja ekonomi Kabupaten Beltim menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,30 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mengalami kontraksi.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp11,98 triliun, atau naik sekitar Rp1,01 triliun dibandingkan tahun 2024. PDRB per kapita juga meningkat menjadi Rp89,14 juta.

Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh sektor pertanian, industri pengolahan, serta pertambangan dan penggalian yang kembali menguat.

Pemkab Beltim Perkuat Pengendalian Harga

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Beltim melalui Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Setda Beltim, Bayu Priyambodo, menegaskan pentingnya antisipasi terhadap dinamika inflasi.

Dalam sambutan Bupati Beltim, Kamarudin Muten yang dibacakan olehnya, disampaikan bahwa kenaikan harga terjadi pada sekitar 40 persen komoditas, termasuk komoditas cumi yang sempat mencapai Rp150.000 per kilogram.

“Kondisi ini tentu memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah pengendalian inflasi yang terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” kata Bayu.

Ia menambahkan, memasuki April, sejumlah faktor masih berpotensi memicu tekanan inflasi, seperti fluktuasi harga emas serta kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).

“Pemkab Beltim bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat strategi pengendalian, mulai dari pemantauan harga, menjaga kelancaran distribusi, hingga memastikan ketersediaan bahan pokok agar tetap aman di masyarakat,” ujarnya.

Pemkab Beltim juga akan terus mendorong sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memastikan distribusi lancar, serta mengantisipasi potensi gejolak harga ke depan.*