TANJUNGPANDAN: Membangun desa bukan sekadar melanjutkan estafet kepemimpinan. Lebih dari itu, ia ingin merawat mimpi yang tumbuh bersama masyarakat sejak kecil. Itulah Sebabnya, Calon Kades Air Merbau, Juli Prastyo atau akrab disapa Tiyok, ingin Desa Air Merbau berkembang dan Maju Bersama sama membangun desa.
Sebagai putra kedua Kepala Desa Air Merbau, Bapak Katto, Tiyok tumbuh menyaksikan bagaimana sebuah desa dibangun bukan hanya dengan anggaran dan program, tetapi juga dengan kebersamaan. Ia melihat sendiri bagaimana keputusan-keputusan desa lahir dari musyawarah, gotong royong menjadi budaya, dan persoalan warga diselesaikan dengan semangat saling membantu.
Pengalaman itulah yang kini membentuk tekadnya saat maju sebagai Calon Kepala Desa Air Merbau.
“Bagi saya, membangun desa tidak bisa dilakukan oleh satu orang. Kepala desa hanya menjadi penggerak. Kemajuan Air Merbau hanya bisa tercapai kalau pemerintah desa, BPD, RT, tokoh agama, tokoh pemuda, kelompok tani, pelaku UMKM, dan seluruh masyarakat berjalan bersama,” ujar Tiyok.
Ia mengaku bersyukur karena Air Merbau telah memiliki fondasi pembangunan yang baik. Menurutnya, tugas generasi penerus bukan menghapus apa yang telah dibangun, melainkan menjaga, menyempurnakan, dan menghadirkan gagasan baru agar desa semakin berkembang.
“Saya bersyukur atas fondasi pembangunan yang sudah dibangun selama ini. Tugas generasi berikutnya adalah menjaga hal-hal yang sudah baik, lalu menambahkan inovasi agar pelayanan semakin cepat, pembangunan semakin merata, dan peluang ekonomi masyarakat semakin berkembang,” katanya.
Di mata Tiyok, kekuatan terbesar Air Merbau bukan hanya terletak pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada warganya yang masih memegang teguh nilai gotong royong. Karena itu, ia ingin membangun hubungan yang semakin harmonis di antara seluruh unsur desa.
Menurutnya, ketika semua pihak mampu duduk bersama, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang sama, berbagai persoalan akan lebih mudah diselesaikan.
“Kalau semua unsur desa bisa duduk bersama, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang sama, saya yakin pembangunan akan berjalan lebih lancar. Tidak ada yang berjalan sendiri, tetapi kita bergerak bersama demi Air Merbau,” tuturnya.
Namun bagi Tiyok, membangun desa tidak cukup hanya dari dalam. Ia menilai Air Merbau juga harus aktif membuka komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Belitung, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga pemerintah pusat agar lebih banyak program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang bisa dibawa pulang ke desa.
“Desa harus proaktif. Kita tidak hanya menunggu program datang, tetapi juga harus mampu menjemput peluang demi kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Perhatian besar juga ia berikan pada upaya mewujudkan desa yang mandiri. Potensi pertanian, perkebunan, perikanan, UMKM, hingga semangat kerja masyarakat dinilainya menjadi modal besar untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Ia membayangkan Air Merbau sebagai desa yang mampu menciptakan lebih banyak lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkarya tanpa harus meninggalkan kampung halaman demi mencari masa depan.
“Saya ingin Air Merbau menjadi desa yang harmonis, maju, mandiri, dan terus berkembang. Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang pelayanan yang baik, ekonomi yang tumbuh, dan masyarakat yang semakin sejahtera,” ujarnya.
Di tengah dinamika pembangunan desa, Tiyok percaya satu hal tidak boleh hilang, yaitu rasa persaudaraan. Baginya, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan kekuatan yang selama ini membuat Air Merbau mampu melewati berbagai tantangan.
Melalui semangat kebersamaan itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat tetap menjaga persatuan dan terus berjalan berdampingan. Sebab, menurutnya, masa depan Air Merbau tidak dibangun oleh satu nama, melainkan oleh seluruh warga yang memiliki harapan yang sama: menjadikan desa tempat yang semakin baik untuk generasi hari ini dan yang akan datang.











