TANJUNGPANDAN – Di tengah tantangan krisis pangan global dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, Calon Kepala Desa (Cakades) Air Merbau, Juli Prastyo (Tiyok), menawarkan konsep Pertanian Terpadu Berkelanjutan sebagai salah satu program unggulan untuk membangun kemandirian desa.
Menurut Tiyok, ketahanan pangan bukan lagi sekadar isu pertanian, melainkan menjadi kebutuhan strategis yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Kondisi dunia yang tidak menentu akibat perubahan iklim, gejolak ekonomi, hingga ancaman krisis pangan global menuntut desa memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
“Desa yang kuat adalah desa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Ketahanan pangan akan menjadi salah satu pondasi penting menghadapi berbagai tantangan global di masa depan,” ujar Tiyok.
Melalui konsep Pertanian Terpadu Berkelanjutan, Tiyok ingin mengembangkan sistem pertanian yang saling terintegrasi, mulai dari budidaya tanaman, peternakan, perikanan, hingga pengolahan limbah organik menjadi pupuk. Menurutnya, pola tersebut mampu meningkatkan produktivitas lahan, menekan biaya produksi, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Baginya, bertani bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional yang berat. Kemajuan teknologi telah membuka peluang bagi generasi muda untuk mengelola usaha pertanian secara lebih modern, efisien, dan bernilai ekonomi tinggi.
“Bertani hari ini adalah tentang inovasi, teknologi, dan kewirausahaan. Saya ingin warga khususnya pemuda Air Merbau melihat pertanian sebagai profesi yang membanggakan sekaligus menjanjikan masa depan,” katanya.
Komitmen tersebut bukan sekadar gagasan. Selama ini Tiyok aktif sebagai Ketua Kelompok Tani Terpadu, mendampingi masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan, budidaya hortikultura, serta penerapan teknologi sederhana yang dapat meningkatkan hasil produksi.

Ia menilai hampir setiap rumah di Air Merbau memiliki potensi lahan yang dapat dimanfaatkan menjadi kebun produktif untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menambah pendapatan rumah tangga.
Selain membangun sistem pertanian desa, Tiyok juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi dan memiliki jaringan dengan berbagai pihak di bidang pertanian. Ke depan, apabila program tersebut berjalan, ia ingin membuka kesempatan bagi petani-petani Air Merbau untuk meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, termasuk mempelajari praktik pertanian modern di luar negeri.
Menurut Tiyok, investasi terbesar sebuah desa bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan kualitas sumber daya manusianya. Karena itu, ia ingin melahirkan petani-petani muda yang inovatif, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menjadi penggerak ekonomi desa.
Ia berharap Air Merbau tidak hanya dikenal sebagai desa yang maju pembangunannya, tetapi juga sebagai desa yang mandiri dalam pangan, mampu mencetak petani milenial, dan menjadi contoh pengembangan pertanian terpadu berkelanjutan di Kabupaten Belitung.*

















