TANJUNGPANDAN – Upaya penguatan dan aktivasi objek kemajuan kebudayaan lokal di Kabupaten Belitung kembali digiatkan melalui Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Penguatan dan Aktivasi Objek Kemajuan Kebudayaan yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Program ini digagas oleh Mansyur, seorang seniman seni rupa asal Belitung, melalui kegiatan Workshop dan Pameran Karya Seni Rupa yang memanfaatkan limbah kaolin dan limbah timah sebagai medium utama penciptaan karya lukis. Gagasan ini bertujuan menghadirkan karya seni yang berkarakter kuat dan memiliki ciri khas lokal Belitong, baik dari sisi material maupun konsep artistik.
Menurut Mansyur, pemanfaatan kaolin dan timah dalam seni rupa menjadi upaya menggeser cara pandang masyarakat terhadap sumber daya alam Belitung. “Kaolin dan timah tidak hanya dilihat sebagai komoditas tambang industri, tetapi juga dapat menjadi medium visual yang sarat nilai estetika, filosofis, dan identitas lokal,” ujarnya.
Salah satu narasumber kegiatan, Marwan Hasan, menjelaskan bahwa alam Belitung menyediakan kekayaan bahan alam yang sangat melimpah. “Belitong memiliki kurang lebih 180 jenis tanaman dan rempah yang bisa dimanfaatkan. Banyak di antaranya juga dapat digunakan sebagai pewarna alami, seperti daun suji, kunyit, suge, samak, kesumba, akar cemara angin, pinang gading, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Kegiatan ini membuka ruang kolaborasi lintas generasi, mulai dari Baby Boomers hingga Gen Z. Sebanyak 60 peserta generasi muda berbakat di bidang seni rupa ikut terlibat, berasal dari berbagai sekolah tingkat SMP/MTs/sederajat hingga SMA/SMK dan MA se-Kabupaten Belitung. Melalui program ini, para pelajar diajak untuk kembali mengenali dan menghargai kekayaan alam serta budaya daerahnya sendiri.
Penggagas kegiatan, Mansyur, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai kerja kebudayaan yang partisipatif dan berkelanjutan.
“Seni rupa dijadikan sarana untuk membaca dan mendokumentasikan objek kebudayaan lokal, mulai dari tradisi, cerita rakyat, benda pusaka, hingga lanskap budaya yang mulai jarang dikenal generasi muda,” katanya.
Dalam salah satu sesi diskusi, Ketua Dewan Kesenian Belitung, Iqbal H. Saputra, yang diundang sebagai narasumber, menuturkan bahwa budaya merupakan gagasan, nilai, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Manifestasi budaya bisa berupa ide, aktivitas, maupun artefak. Budaya lokal Belitong selalu ada di sekitar kita, misalnya memindahkan motif daun simpor ke dalam sebuah busana yang bernilai,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi seni rupa yang telah dilaksanakan pada Jumat, 6 Februari 2026, di Gedung Nasional Tanjungpandan. Selanjutnya, workshop digelar pada 7–10 Februari 2026 di Galeri Mansyur, kawasan Pantai Hiburan Tanjung Pendam. Para peserta mendapatkan pelatihan teknik menggambar konvensional, eksplorasi material, pengolahan kaolin menjadi kanvas, hingga pengaplikasian material timah ke dalam karya lukis.
Seluruh karya hasil proses kreatif tersebut akan dipamerkan pada 15 Februari 2026 di Gedung Nasional Tanjungpandan. Pameran ini terbuka untuk umum sejak pagi hingga malam hari, sehingga masyarakat dapat menyaksikan secara langsung lahirnya karya-karya kreatif para perupa muda Belitong.
Harapannya, karya seni lukis berbahan dasar kaolin dan timah ini dapat menjadi ikon baru seni rupa Belitung sekaligus menghadirkan kesan eksotis Pulau Belitong.
“Pulau Belitong dikenal sebagai Pulau Timah dan Pulau Kaolin. Lum ke Belitong mun lum punye karya lukis berbahan dasar kaolin dan timah,” tutup Mansyur.*

















