TANJUNGPANDAN: Senator Bangka Belitung, Ir. H. Darmansyah Husein, menggelar kegiatan reses yang penuh makna di Masjid Nurul Fatah, Kelurahan Tanjungpendam, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, belum lama ini. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga panggung penting bagi edukasi lingkungan dengan pendekatan nilai-nilai keislaman.
Dihadiri oleh Sekretaris MUI Belitung Dokrandes Huniyadi Bellia, pengurus masjid nurul fatah, tokoh agama, tokoh pemuda, serta para pengurus majelis taklim se-Tanjungpandan, acara ini mengulas isu Perubahan Iklim.
Seruan Religius untuk Menjaga Bumi
Acara dimulai dengan lantunan Asmaul Husna oleh para ibu majelis taklim yang menggetarkan hati, menandai momen penuh kekhusyukan. Dalam sambutannya, Ketua Majelis Taklim Nurul Fatah, Ibu Syamsiah, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas kehadiran sang senator.
“Kehadiran Pak Darmansyah membawa pencerahan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah,” ujar Syamsiah. Ia berharap pesan ini dapat terus digaungkan ke seluruh jamaah sebagai bagian dari dakwah yang menyentuh aspek kehidupan nyata.
Islam Mengajarkan Kelestarian, Bukan Perusakan
Senator Darmansyah Husein dalam pemaparannya menegaskan bahwa perubahan iklim bukan semata isu global, tetapi juga masalah keimanan. Ia menyoroti bahwa kerusakan lingkungan banyak disebabkan oleh ulah manusia sendiri, termasuk pembakaran sampah sembarangan dan penggunaan plastik berlebih.
“Islam mengajarkan kita untuk tidak merusak bumi. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan bisa menjadi bentuk ibadah jika diniatkan untuk kebaikan lingkungan,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk memulai aksi nyata seperti Tidak membakar sampah, melainkan mengolahnya menjadi kompos ramah lingkungan, Mengurangi plastik sekali pakai demi menekan polusi, Menanam pohon di pekarangan rumah dan masjid sebagai upaya penghijauan.
Lebih lanjut, Darmansyah menekankan pentingnya peran majelis taklim sebagai agen perubahan sosial. Menurutnya, dakwah kini harus berkembang, tidak hanya berkutat pada ibadah ritual, tetapi juga menyentuh isu-isu krusial seperti ketahanan pangan, kesehatan lingkungan, dan kelestarian alam.
“Jika dalam setiap pertemuan majelis taklim disisipkan satu pesan lingkungan, maka dampaknya bisa sangat besar dan menyentuh hingga ke akar masyarakat,” katanya optimis.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai aspirasi seperti pengelolaan sampah yang estetis dan berkelanjutan, pengembangan pariwisata hijau, hingga kebutuhan akan bibit kelapa hibrida sebagai bagian dari program penghijauan dan ketahanan pangan lokal.
Reses ini menandai bagaimana pendekatan spiritual dan lingkungan dapat berjalan beriringan, menjadikan masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat perubahan.*











