TANJUNGPANDAN – Tradisi adat tahunan “Beselamat Kampong” kembali digelar masyarakat Dusun Perawas Desa Perawas dan Desa Buluh Tumbang, Kecamatan Tanjungpandan pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan yang sarat nilai budaya dan spiritual ini berlangsung khidmat di rumah Bapak Erwin selaku Dukun Muda’ Kampong Perawas, di Jalan Badau RT 04/RW 02, Dusun Perawas 2, Desa Buluh Tumbang.
Kegiatan tersebut dihadiri Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Belitung Adi Febriatna yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata Belitung, Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung Achmad Hamzah, Kasi Kesra Kecamatan Badau Wahyu, Kepala Desa Perawas Yahya, Kepala Desa Buluh Tumbang Riswan, Dukun Kampong Tua Seliman, Dukun Muda Erwin, Ketua Panitia Hamidin, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.
Acara diawali dengan pembukaan dan Selanjutnya dilakukan laporan kegiatan dan sambutan dari para tokoh masyarakat yang mengajak seluruh warga untuk terus menjaga warisan budaya leluhur sebagai identitas masyarakat Belitung.
Momentum sakral kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis dari perwakilan masyarakat kepada Ki’ Dukun Kampong Tua Seliman yang didampingi Dukun Muda Erwin sebagai tanda dimulainya prosesi adat Beselamat Kampong.
Dalam ritual tersebut, Ki’ Dukun Kampong melaksanakan prosesi ritualnya dengan alat kelengkapannya yang sudah dipersiapkan. Kegiatan prosesi ini sebagai simbol penolak bala dan permohonan keselamatan bagi seluruh warga kampung.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan “mengunci kampong” menggunakan air yang dipercikkan sebagai lambang perlindungan dan keberkahan bagi lingkungan sekitar. Acara kemudian dilanjutkan doa bersama yang berlangsung penuh kekhusyukan.
Usai prosesi adat, air tersebut dibagikan kepada warga dalam botol-botol kecil untuk dibawa pulang dan digunakan di rumah masing-masing sebagai simbol doa keselamatan dan keberkahan keluarga.
Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Belitung Adi Febriatna menyampaikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun tersebut. Menurutnya, kegiatan budaya seperti Beselamat Kampong memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya daerah sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Tradisi seperti ini diharapkan terus dilestarikan karena menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Belitung,” ujarnya.
Kepala Desa Perawas Yahya mengatakan kegiatan rutin tahunan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus memohon keberkahan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Desa Buluh Tumbang Riswan menilai Beselamat Kampong menjadi simbol unik kearifan lokal yang menyatukan dua wilayah desa dalam satu tradisi budaya yang harmonis.
“Ini menjadi bukti bahwa adat mampu menyatukan masyarakat dan menjaga silaturahmi agar tetap terpelihara,” katanya.
Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung Achmad Hamzah menambahkan, tradisi Beselamat Kampong juga menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Tradisi Beselamat Kampong merupakan warisan adat turun-temurun masyarakat Belitung yang hingga kini terus dijaga dan dilestarikan. Ritual ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa bersama agar kampung senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan, gotong royong, serta menghormati adat dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur secara turun-temurun.*












