Ketika BBM Langka, Langkah Guru Menuju Sekolah Ikut Terancam
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 2 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pagi bagi seorang guru seharusnya dimulai dengan persiapan mengajar, memeriksa materi pelajaran, dan memastikan anak-anak didiknya siap menerima ilmu. Namun, ketika bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang langka. ada satu pertanyaan lain yang lebih dulu menghantui: bagaimana bisa sampai ke sekolah?
Pertanyaan sederhana itu kini menjadi kekhawatiran bagi guru dan pegawai yang bertugas di luar Tanjungpandan.
Jarak tempat tinggal dengan sekolah yang cukup jauh membuat kendaraan bukan sekadar alat transportasi. Kendaraan menjadi satu-satunya sarana untuk menempuh perjalanan pergi dan pulang setiap hari. Dan kendaraan tentu tidak akan bergerak tanpa BBM.
Persoalan itulah yang membuat kelangkaan BBM menjadi lebih dari sekadar masalah antrean di SPBU.
Pada Minggu, masyarakat yang mencari BBM jenis Pertalite dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah. Sejumlah SPBU tutup, sementara Pertalite dianggap barang langka. Yang tersedia justru lebih banyak BBM jenis Pertamax.
Bagi sebagian masyarakat, Pertamax mungkin menjadi pilihan. Namun bagi mereka yang harus menghitung pengeluaran hingga rupiah terakhir, harga yang lebih tinggi membuat pilihan itu tidak mudah.
Di sinilah persoalan BBM mulai bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Penghasilan yang terbatas harus dibagi untuk berbagai kebutuhan: makan, biaya rumah tangga, pendidikan anak, listrik, dan kebutuhan lainnya. Ketika biaya transportasi ikut membengkak, ruang untuk memenuhi kebutuhan lain pun semakin sempit.
“Gaji yang sudah tidak seberapa akan bertambah berat menjalani kehidupan jika BBM sulit didapat dan harga yang tersedia relatif tinggi.”
Bagi guru yang bertugas jauh dari Tanjungpandan, persoalannya bukan hanya soal pengeluaran yang bertambah.
Ada waktu yang harus dipertaruhkan.
Jika BBM tidak tersedia, perjalanan menuju sekolah bisa terganggu. Jika harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari BBM, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru habis di jalan.
Dan jika kondisi itu berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin kehadiran guru di sekolah ikut terdampak.
Padahal, di ruang kelas, ada siswa yang menunggu. Ada guru yang harus berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran, membimbing, mendengarkan cerita anak-anak, dan memastikan proses pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Bagi seorang siswa, ketidakhadiran guru mungkin hanya terlihat sebagai satu jam pelajaran yang kosong. Tetapi di baliknya bisa ada perjalanan panjang yang terhenti karena tangki kendaraan tidak terisi.
Karena itu, masalah BBM semestinya tidak dilihat hanya sebagai persoalan kebutuhan masyarakat untuk bepergian. Ketersediaan BBM juga berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi dan pelayanan publik, termasuk pendidikan.
Guru dan pegawai yang bekerja di wilayah luar Tanjungpandan membutuhkan kepastian bahwa mereka dapat pergi dan pulang dari tempat tugas tanpa harus dihantui kekhawatiran kehabisan BBM.
Masyarakat pun berharap pemerintah dan para pemangku kebijakan di Belitung segera mengambil langkah nyata untuk memastikan ketersediaan BBM, terutama jenis BBM yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan terbatas.
Harapan itu sederhana: BBM tersedia, harga terjangkau, dan masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari bahan bakar.
Sebab bagi masyarakat kecil, persoalan ekonomi sudah cukup berat.
Lapangan pekerjaan yang belum memadai membuat banyak keluarga harus bertahan dengan penghasilan seadanya. Jangan sampai kesulitan mendapatkan BBM kembali menambah beban yang harus mereka pikul.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan seseorang membeli bahan bakar.
Ada pekerjaan yang harus dituju. Ada keluarga yang harus dinafkahi. Ada anak-anak yang harus belajar. Ada sekolah yang harus tetap berjalan.
Dan di balik setiap liter BBM yang sulit didapat, ada cerita tentang masyarakat yang sedang berjuang agar kehidupan tetap berjalan seperti biasa.*)
.*)Penulis adalah Samad S.M/ Praktisi Pendidikan dan Saat Ini Tengah Mengikuti Pendidikan Program S2 di PERTIBA
“
- person
- visibility 53
- forum 0