Belitung Menanti Kapal Cepat ASDP Kembali Operasikan Jakarta-Belitung

kehadiran kapal cepat akan memberikan pilihan transportasi yang lebih ramah di kantong sekaligus menjadi penggerak sektor pariwisata, perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi di Belitung.

TANJUNGPANDAN – Bagi banyak warga dan pelaku wisata di Belitung, perjalanan menuju Jakarta kini bukan lagi sekadar soal jarak, tetapi juga kemampuan membeli tiket pesawat yang kian mahal. Harapan pun kembali muncul ketika wacana pengoperasian kapal cepat rute Jakarta–Belitung kembali mengemuka.

Pelaku pariwisata Belitung, Kusumah Kosasih, menyambut baik dorongan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung agar PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengoperasikan kembali kapal cepat sebagai alternatif transportasi yang lebih terjangkau.

“Kami sangat mendukung usulan Wakil Ketua DPRD Babel, Edi Nasapta. Kapal cepat akan menjadi solusi di tengah tingginya harga tiket pesawat,” ujar Kusumah.

Menurutnya, kapal cepat bukan hanya memudahkan warga yang ingin bepergian, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi wisatawan untuk kembali memilih Belitung sebagai destinasi liburan. Semakin mudah akses menuju pulau ini, semakin besar pula harapan pelaku usaha wisata, mulai dari hotel, restoran, hingga UMKM, untuk kembali bergairah.

Dorongan tersebut sebelumnya disampaikan Wakil Ketua DPRD Babel, Edi Nasapta, dalam audiensi bersama Direksi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) di Jakarta. Ia mengusulkan agar kapal cepat seperti Mahakam dan Cisadane kembali melayani rute Jakarta–Belitung dengan tarif sekitar Rp500 ribu per penumpang.

Menurut Edi, kehadiran kapal cepat akan memberikan pilihan transportasi yang lebih ramah di kantong sekaligus menjadi penggerak sektor pariwisata, perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi di Belitung.

Harapan itu kini menunggu hasil kajian PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Direktur Keuangan ASDP, Bunga Herlina Oktaviyanti, mengatakan perusahaan akan melakukan kajian dari sisi teknis, operasional, dan bisnis sebelum memutuskan pengoperasian rute tersebut. Kajian itu ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua bulan.

Bagi masyarakat Belitung, dua bulan ke depan bukan sekadar menunggu hasil kajian. Lebih dari itu, mereka menanti hadirnya akses transportasi yang lebih terjangkau, agar perjalanan ke dan dari Pulau Belitung tidak lagi menjadi beban, melainkan kembali membuka peluang bagi pariwisata dan perekonomian daerah untuk tumbuh.