Dengarkan Keluh Kesah hingga Ajak Warga Lawan Golput, KPU Beltim Ngopi Bareng Nelayan

Program "Kopi Sore Demokrasi" menjadi salah satu upaya KPU untuk meruntuhkan jarak antara penyelenggara pemilu dan masyarakat akar rumput.

MANGGAR – Di tengah aroma kopi panas dan debur angin pesisir Manggar, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Belitung Timur menghadirkan cara berbeda dalam membangun kesadaran demokrasi masyarakat. Lewat program bertajuk “Kopi Sore Demokrasi”, KPU Beltim turun langsung menyapa para nelayan di Warung Kopi Ali, kawasan Lipat Kajang, Desa Baru, Manggar, Jumat (8/5/2026).

Bukan di aula resmi atau ruang seminar, pendidikan pemilih kali ini digelar santai ala warung kopi. Komisioner KPU Sosdiklih Asrikhah duduk dikursi kayu bersama nelayan yang baru pulang melaut, menikmati kopi sambil berbincang soal politik, harapan, dan kekecewaan masyarakat pesisir terhadap para pemimpin.

Suasana hangat itu perlahan berubah menjadi forum curhat terbuka. Para nelayan dengan lugas menyampaikan rasa jenuh terhadap janji politik yang dianggap hanya hadir menjelang pemilu.

“Jujur saja, bagi kami lebih baik turun ke laut cari ikan daripada ke TPS. Kalau melaut hasilnya jelas untuk makan keluarga hari itu. Kalau memilih, ujung-ujungnya kami cuma dapat janji-janji saja,” ungkap salah seorang nelayan.

Keluhan mengenai kesejahteraan nelayan, bantuan alat tangkap, hingga harga BBM yang kerap tidak stabil menjadi persoalan utama yang mereka soroti. Menurut mereka, masyarakat pesisir sering kali hanya dijadikan sasaran kampanye, tetapi terlupakan ketika para calon sudah duduk di kursi kekuasaan.

KPU Beltim Tekankan Bahaya Golput

Menanggapi skeptisisme tersebut, Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Beltim, Asrikhah, memilih pendekatan persuasif dengan membuka ruang dialog bersama warga secara langsung

la menegaskan bahwa sikap golput bukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Justru, ketika masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya, kesempatan menentukan arah kebijakan akan hilang.

“Kami datang ke sini bukan untuk memaksa, tapi untuk mendengarkan. Kami ingin memastikan bapak-bapak nelayan paham bahwa surat suara yang dicoblos itu adalah titipan nasib untuk lima tahun ke depan. Jika kita abai, maka kita kehilangan hak untuk menagih perubahan,” ujar Asrikhah.

Dalam dialog tersebut, KPU Beltim menyampaikan tiga pesan utama kepada masyarakat nelayan:

Hak pilih adalah alat kontrol rakyat untuk menentukan siapa yang layak mengambil kebijakan, termasuk di sektor kelautan dan perikanan.

AddText 05 09 11.53.54 scaled

Pentingnya mengenali rekam jejak calon pemimpin agar masyarakat tidak mudah terjebak janji sesaat.

Suara masyarakat pesisir memiliki kekuatan yang sama besar dengan pemilih lainnya dalam menentukan masa depan daerah.

Demokrasi Hadir di Tengah Masyarakat Pesisir

Selain melakukan pendidikan pemilih, KPU Beltim juga menegaskan komitmennya dalam menjaga validitas data pemilih melalui proses pencocokan dan penelitian (coklit) berkelanjutan dari berbagai segmen masyarakat.

Ketua KPU Beltim Marwansyah sebut bahwa Program “Kopi Sore Demokrasi” menjadi salah satu upaya KPU untuk meruntuhkan jarak antara penyelenggara pemilu dan masyarakat akar rumput. Dengan mendatangi langsung kantong-kantong pemilih marginal, KPU berharap kesadaran demokrasi dapat tumbuh secara alami dari bawah.

Di warung kopi sederhana di pesisir Manggar itu, demokrasi tak lagi terasa kaku dan jauh. la hadir dalam obrolan santai, di antara kepulan asap kopi dan cerita masa depan yang mereka harapan.*