Home / EDITORIAL / MALU (LAH) PADA ALLAH
Oleh : Oleh : saifuddin al mughniy

MALU (LAH) PADA ALLAH

Bagikan :

Malu tak sebatas kata tunggal yang pendek, ditulis maupun diucapkan. Kata malu pada tulisan ini lebih pada “malu” secara hakekat. Malu secara hakekat adalah lebih bersentuhan pada nilai penciptaan manusia.

Allah—
Tak pernah memilih² siapa yang akan diberikan rezeki. Kadang manusia tanpa meminta pun diberikannya. Udara yang kita hirup setiap harinya adalah nikmat terbesar yang tak pernah putus Allah berikan setiap waktu. Bisa dibayangkan sedetik saja Allah tak memberikan udara untuk dihirup manusia, mungkin seluruh manusia akan mati seketika.

Allah—-
Memberikan nikmat flora dan fauna, samudera beserta isinya, bumi beserta isinya—adalah untuk keberlanjutan kehidupan manusia. Seandainya tumbuhan dan hewan tidak diperuntukkan manusia, maka (mungkin) manusia akan saling memangsa satu sama lainnya (Homo Homini lupus) manusia akan menjadi pemangsa bagi manusia lainnya.

Allah—-
Memberikan kelengkapan anatomi pada manusia seperti telinga untuk pendengaran, mata untuk melihat, hidung untuk penciuman, kulit sebagai perasa. Sepasang tangan dan kaki. Sekiranya semua itu Allah ambil saja satu diantaranya tentu manusia akan mengalami “kepincangan” dalam tubuhnya.

Allah—-
Memberikan otak (,pikiran), agar manusia mampu bertindak bijak dan berfikir secara rasional. Dan sekiranya kelengkapan pikiran tak diberikan olehNya—tentu manusia akan lebih rendah dari binatang kal an’am. Akal.pikiran yang pada akhirnya menempatkan manusia lebih mulia dibanding mahluk ciptaan lainnya.

Lalu?—–
Pernahkah kita merasa malu pada Allah?, Saat semuanya diberikan secara gratis dan tanpa pamrih. Kehidupan disempurnakan dengan nikmat pemberian yang luar biasa banyaknya hingga tak terhingga. Bahkan sebanyak 31 kali Allah menyatakan dalam Surah Ar Rahman “Fabi ayyi alai robbikuma Tukazziban” > nikmat mana lagi yang engkau dustakan—itu kata Allah.

Kalau kehidupan disempurnakan dengan segala nikmat, apakah kita akan kekal didalamnya?, Tentu tidak !!!,

Kematian—adalah puncak.ikhtiar dari seluruh perjalanan dimuka bumi ini. Tetapi, setidaknya “Malulah” kita kepada Allah, bila suatu saat kita berlumuran dosa menghadapNya, kenapa harus malu?, …. Sebab Allah memberikan semuanya secara gratis tanpa kita.minta, lalu kita kembali tanpa taqwa, nauzubillah minzalik.

Ya Robb—
Jangan panggil aku menghadapMU bila aku masih bersimbah noktah—Ya Robb, aku tak butuh syurgaMU kecuali ridhoMU. Dan aku ingin kembali kepadaMU dalam keadaan tersenyum membawa amal ibadahku dihadapanMU.

Ya Robb— engkaulah Yang Maha Kasih.

# CatatanRingan
Bermuhasabah latahzanu—-