Wahai kaum Muslimin rahimakumullah,
Hari ini, gema takbir berkumandang, menggema ke seluruh penjuru, mengiringi kebahagiaan umat Islam di hari kemenangan. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, kini tibalah hari yang dinanti-nanti, hari Idulfitri, saat kita kembali kepada fitrah, bersih dari dosa, dan menyambung silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Namun, di tengah kebahagiaan ini, ada renungan mendalam yang perlu kita hayati bersama.

Kembali kepada Fitrah, Kembali kepada Orang Tua
Dalam hiruk-pikuk perayaan, ada yang merasakan kesunyian. Tidak semua dari kita bisa merayakan Idulfitri bersama orang tua dan keluarga tercinta. Sebagian tidak dapat mudik, sebagian lain telah kehilangan orang-orang terkasih yang lebih dahulu menghadap Allah ﷻ. Betapa banyak di antara kita yang belum sempat meminta maaf secara langsung kepada ayah dan ibu sebelum mereka pergi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Bagi yang masih memiliki orang tua, manfaatkanlah kesempatan ini untuk berbakti, meminta maaf, dan membahagiakan mereka. Jangan sampai penyesalan datang di kemudian hari. Bagi yang telah kehilangan, mari kita hadiahkan doa-doa terbaik dan sedekah atas nama mereka, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Silaturahmi: Jembatan Menuju Kedamaian
Idulfitri bukan hanya soal pakaian baru atau hidangan lezat, tetapi juga momen untuk memperbaiki hubungan. Sungguh menyedihkan jika di hari kemenangan ini masih ada hati yang diliputi kebencian, masih ada perselisihan yang belum terselesaikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (Muttafaq ‘alaih)
Maka, jangan ragu untuk merajut kembali persaudaraan yang sempat terkoyak. Ucapkanlah maaf, tebarkanlah senyum, dan bukalah hati untuk berdamai. Tidak ada kemenangan yang lebih indah daripada hati yang lapang dan penuh kasih sayang.
Mengenang Kampung Halaman, Mengenang Jati Diri
Bagi banyak orang, Idulfitri adalah kesempatan untuk kembali ke kampung halaman, tempat di mana kita tumbuh dan mengenal nilai-nilai kehidupan. Rasulullah ﷺ pun sangat mencintai tanah kelahirannya, Makkah, sebagaimana beliau bersabda saat hendak hijrah:
“Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang terbaik dan bumi yang paling dicintai Allah. Jika bukan karena aku diusir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.” (HR. Tirmidzi)

Maka, jika kita masih memiliki kesempatan untuk kembali, jangan hanya menjadikannya sebagai ajang nostalgia. Gunakanlah untuk menyebarkan kebaikan, membantu sesama, dan menghidupkan nilai-nilai kebersamaan. Sebab, kampung halaman bukan hanya tempat lahir, tetapi juga tempat kita belajar tentang arti kehidupan.
Menggapai Berkah Idulfitri
Di hari yang suci ini, mari kita panjatkan doa agar Allah ﷻ menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menguatkan ukhuwah di antara kita. Semoga Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan sesaat, tetapi menjadi titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih pemaaf, dan lebih mencintai sesama.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
Taqabbalallahu minna wa minkum, Selamat Idulfitri! Mohon maaf lahir dan batin.
.*)Ust. Erwin Fauzi SIP/Wakil Ketua Pemuda Muhamadiyah Provinsi Bangka Belitung, yang disampaikan khotbah Idul Fitri I446 Hijrah, di Masjid Al-Maun Desa Air Ketekok, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung













