Home / Bangka Belitung / MONYET KE AKAL BUDI
Oleh : Didin El Mughniy

MONYET KE AKAL BUDI

Bagikan :

Bagaimana perjalanan Lukmanul Hakim bersama anakanya dengan seekor keledainya, mendapat banyak tantangan dan cacian, tetapi ayah dan anak ini justru mengambil banyak hikmah didalamnya. Bahwa perubahan hanya mungkin bisa dilakukan bukan karena harus banyak mendengarkan orang lain tentang apa yang sedang dan akan dikerjakan, tetapi perubahan (change) hanya mungkin bisa dilakukan dengan niat dan tindakan.

Banyak orang yang ingin melakukan perubahan tapi tak punya niat bahkan tak punya gerbong untuk bergerak. Bahkan ada orang ingin melakukan perubahan tetapi dalam lingkungannya sendiri cendrung dicurigai dengan berbagai macam perspektif dimana pespektif itu belum tentu benar seluruhnya dan tidak salah separohnya.

Karena itu, perubahan adalah sesungguhnya adalah cara pandang seseorang untuk melihat masa depan, kecurigaan (mungkin) bisa dibilang sebagai sikap apatis dan apriori. Sebab makna filosofisnya, tak ada usia yang bertahan muda, pasti mengalami transformasi. Curiga itu seperti harimau mengintai banteng, sama² mencurigai seekor rusa.

Nah, dibanyak fenomena kadang saling mencurigai itu diakibatkan karena ketakutan “ruang makan” terganggu
Bagaimana marahnya seekor monyet bila sebuah pisang dimakan seekor jerapah. Artinya, monyet merasa terusik dan terganggu karena makanan dan komunitasnya terambil. Kata Plato, dalam diri manusia terdiri tiga unsur penting, ephitumia, thumos dan sofia.

Ephitumia adalah kecendrungan manusia didorong oleh hasrat untuk menguasai sesuatu. Thumos, adalah kecendrungan manusia yang digerakkan oleh kekuatan nafsu, keserakahan termasuk dalam kekuasaan. Disini kadang dilahirkan “Homo Homini Lupus” (manusia yang satu akan menjadi manusia akan jadi pemangsa bagi manusia lainnya). Nah, bagaimana dengan sofia?, dalam perspektif filsafat platonian, sofia diartikan sebagai cinta, kebijaksanaan, kerendahan. Immanuel Kant menyebutnya sebagai “akal budi”.

Para filosof dari awal menyebutkan bahwa pemimpin itu minimal digerakkan oleh sofia atau akal budi bukan nafsu semata. Karena itu, kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang menjaga keluhuran bukan merampas tradisi dan membumi-hanguskan kearifan. Sebab monyet pun menjaga tradisi makan pisang, dan berfikir agar seekor jerapah tak lagi memakan makanannya.

Monyet pun menjaga akal, kenapa manusia tidak?

#Catatan_PAGI