Home / Bangka Belitung / Pemantik Menuju Rembuk Adat Kepulauan Belitong

Pemantik Menuju Rembuk Adat Kepulauan Belitong

Bagikan :

MANGGAR: LAMBEL (Lembaga Adat Melayu Belitung) dan LAM (Lembaga Adat Melayu) Beltim lakukan kelakar singkat terkait upaya pengembangan adat dan budaya di Pulau Belitong (Belitung dan Beltim), baru baru ini di Manggar Beltim.

Kegiatan pertemuan singkat ini dihadiri Sekretaris LAMBEL Ismail Mihad dan Bendahara LAMBEL Karseno dan Sekretaris LAM Beltim Arif Wibowo Basri.

Ismail Mihad dari Sekretaris LAMBEL sebut bahwa pertemuan ini tidak diagendakan yang sifat dadakan karena kebetulan menghadiri undangan acara kegiatan peluncuran program ekonomi biru, laut sehat dan Indonesia sejahtera dari kementerian kelautan dan perikanan di Pelabuhan Manggar, Belitung Timur, pada Selasa 26 Oktober kemarin.

“Usai acara undagan dari KKP (Kementerian Kelautan Perikanan) secara berkelakar bertemu di dengan rekan-rekan LAM Beltim sambil ngopi, ” katanya.

Dalam pertemuan singkat ini, kata Ismail, diungkapkan guna memperkuat konsolidasi LAMBEL dan LAM Beltim, yang direncanakan atau dijajaki pertemuan rembuk adat se-Pulau Belitong yang resmi akan diatur antara LAMBEL dan LAM Beltim di waktu yang lain sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
“Memang pertemuan ini belum lengkap. Ini sebatas usulan. Sebagai sekretaris akan saya sampaikan informasi usulan ini kepada ketua LAMBEL dan begitupun pak arif (sekretaris LAM Beltim) diharapkan dapat menyampaikan pertemuan ini dengan Ketua LAM Beltim,” katanya.

Ismail Mihad sebut pertemuan silatuhrahmi ini sangat baik guna menyatukan atau mendekatkan secara emosional dalam kaitan kelembagaan guna memberikan solusi soal adat dan budaya Belitung dan Beltim.

“Kita ini baik Belitung dan Beltim punya ikatan budaya dan adat yang sama guna mendorong kedua pemerintah memajukan adat, budaya dan pelestarian lingkungan hidup pulau Belitung. Sebab itu, dalam pertemuan ini diharapkan ada dukungan dari semua pihak terutama kedua pemerintah daerah bila terlaksana kegiatan rencana rembuk adat yang dimaksud,” katanya.*