TANJUNGPANDAN: Di sudut Terminal Lama Tanjungpandan,di Bills Coffee, aroma kopi hitam bercampur tawa ringan para pelanggan setia. Di balik meja sederhana itu, berdiri sosok bersahaja bernama Amirudin (70). Sekilas, ia tampak seperti kebanyakan orang yang menikmati masa tua dengan tenang. Namun siapa sangka, pria yang akrab disapa Pak Amer ini pernah menjadi bagian penting dari denyut nadi panggung-panggung musik besar di Belitung.
Tak banyak yang mengetahui, Amirudin adalah mantan teknisi di lingkungan PN Timah—profesi yang sering dianggap sepele, namun sejatinya memegang peran krusial. Bagi Amirudin, dunia teknisi bukan sekadar merangkai kabel atau memastikan suara terdengar. Ia adalah “penjaga harmoni” yang menentukan sukses tidaknya sebuah pertunjukan.
“Kalau teknisi tidak siap, acara sebesar apa pun bisa gagal,” ujarnya pelan, sembari menuangkan kopi ke cangkir pelanggan.
Di Balik Gemerlap Panggung
Perjalanan Amirudin di dunia teknisi musik bukanlah kisah instan. Ia pernah dipercaya mengelola perangkat musik untuk grup legendaris lokal Bilitonik 1 dan 5—nama yang cukup dikenal di masanya. Bahkan, ia menjadi salah satu putra daerah yang berkesempatan berkolaborasi dengan tim teknisi dari Rhoma Irama saat pertunjukan di stadion Belitung.
Pengalaman itu menjadi salah satu titik puncak dalam perjalanan kariernya. Bekerja di balik layar pertunjukan besar bukan perkara mudah—dibutuhkan ketelitian, ketenangan, dan insting teknis yang tajam.
“Lampu, suara, semua harus pas. Penonton mungkin tidak lihat kami, tapi kami menentukan suasana,” kenangnya.
Belajar dari Nol, Tanpa Guru
Yang lebih mengagumkan, semua keahlian itu ia pelajari secara otodidak. Berawal dari pengalaman di AC Manggar, Amirudin perlahan menekuni dunia teknis sambil bekerja di PN Timah. Bahkan pada era 1980-an, ia sempat diperbantukan ke PLN di Tanjungpandan, memperkaya pengalamannya di bidang kelistrikan.
Ketika sosok teknisi senior Bilitonik 1, almarhum Jamal, pensiun, Amirudin mengambil peran itu. Tanpa pendidikan formal di bidang musik atau teknik audio, ia belajar dari pengalaman, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
“Dulu tidak ada internet. Semua belajar dari lihat dan praktik,” katanya sambil tersenyum.
Menepi, Tapi Tak Pernah Hilang
Kini, panggung besar itu telah ia tinggalkan. Warkop kecil di terminal menjadi tempatnya menghabiskan hari, ditemani sang anak. Namun, semangat dan cerita masa lalu tetap hidup dalam setiap percakapan.
Bagi sebagian orang, Amirudin mungkin hanya seorang pemilik warung kopi. Tapi bagi dunia musik Belitung, ia adalah bagian dari sejarah yang jarang terdengar—seorang teknisi yang pernah menjaga harmoni dari balik layar.
Dan di antara hiruk pikuk terminal, kisahnya tetap mengalun, seperti lagu lama yang tak lekang oleh waktu.*


















