TANJUNGPANDAN – Sebuah karya monumental tentang salah satu putra terbaik Bangka Belitung akhirnya resmi dirilis. Buku berjudul Kronik H. AS Hanandjoeddin: Jejak Dokumenter Perjuangan dan Pengabdian Sang Elang dari Bangka Belitung rampung ditulis dan diterbitkan oleh Yayasan Melati Tanjungpandan, menandai babak baru dalam upaya memperkuat jejak sejarah tokoh penting AURI asal Belitung tersebut.
Buku ini merupakan hasil kolaborasi Haril M. Andersen dan Lettu Caj Muhammad Ivan Harish, sejarahwan militer dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. Keduanya bekerja di bawah arahan akademisi terkemuka, Prof. Dr. Bambang Purwanto, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada.
Penyuntingan buku dilakukan oleh Brigjen TNI Arif Cahyono, putra daerah Belitung sekaligus mantan Kadisjarah TNI AD, serta sejarawan Ali Usman, S.S.
Karya buku yang mengupas perjuangan tokoh prajurit udara pejuang kemerdekaan ini, menurut Haril M. Andersen, adalah karya ketiganya yang mengangkat biografi Letkol Pas (Purn) H. AS Hanandjoeddin, setelah buku Sang Elang (2015) dan Memenuhi Panggilan Rakyat (2021). Namun buku terbaru ini disebut sebagai yang paling komprehensif.
“Penulisan buku ini memang dipersiapkan untuk melengkapi data pengusulan kembali H. AS Hanandjoeddin sebagai pahlawan nasional,” ujar Haril saat ditemui di Posko Sekretariat bersama TP2GD kabupaten Belitung dan Beltim, di Tanjungpandan, Kamis 4 Desember 2025.
Adapun Buku ini mulai digarap swadaya sejak 2024, dengan melakukan penelitian arsip sejarah diberbagai instansi diantaranya di Balakdok Disjarah TNI AD Bandung, Disjarah TNI AU Jakarta, Perpustakaan Nasional RI, dan Kantor Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkalpinang, untuk melengkapi data penulisan rangkaian peristiwa sejarah yang disampaikan secara rinci—mulai dari masa pergerakan kebangsaan, peran aktifnya selama berlangsung revolusi kemerdekaan maupun masa perintisan mengisi kemerdekaan, peran pentingnya di masa perjuangan pembentukan Propinsi Bangka Belitung era 1970-an, perjuangan pada masa perintisan pembangunan di Pulau Belitung, hingga masa purna tugas selepas memimpin daerah sampai akhir hayat.
Menghidupkan Kembali Arsip Sejarah
Penyusunan buku ini mengandalkan sejumlah data primer—catatan pribadi, foto dokumentasi, hingga arsip media nasional seperti Harian Merdeka (1945), Berdjoang, laporan majalah Tempo (1971), dan arsip dari Kompas, Suara Karya, serta Indonesia Raya.
Semua dokumen tersebut digali melalui bantuan tim riset beranggotakan arsiparis senior Disjarah TNI AD, Disjarah TNI AU, dan pustakawan Perpusnas RI.
“Alhamdulillah, banyak kawan yang membantu menelusuri arsip-arsip terkait perjuangan H. AS Hanandjoeddin,” ucap Haril.
Mengangkat Kembali Sosok “Sang Elang” dari Belitung
H. AS Hanandjoeddin, lahir di Tanjung Tikar, Sungai Samak, Badau, Belitung pada 5 Agustus 1910, dikenal sebagai tokoh pelopor AURI sekaligus perintis teknologi kedirgantaraan.
Dari buku ini terungkap bahwa H.AS Hanandjoeddin ternyata teknisi udara pertama putra Indonesia yang berada di angkasa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Hanandjoeddin bersama seorang pilot eks penerbang Jepang bernama Ali, terbang selama 45 menit diatas Kota Malang dan sekitarnya mengibarkan Merah Putih disaksikan ribuan kepala rakyat Malang pada 17 Oktober 1945. Hal inilah yang mengundang rasa kagum Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir sehingga menyatakan atraksi udara itu sebagai bukti Indonesia memiliki kekuasaan atas udara.
Selain seorang komandan pasukan yang berpengalaman di berbagai front pertempuran menghadapi tentara Jepang dan Belanda, sosok yang akrab disapa Pak Long ini dikenal sebagai salah seorang pelopor pembentukan TNI Angkatan Udara dan ikut berperan diawal pendirian BKR AD Divisi VIII Jawa Timur. Pak Long juga berjasa dalam membentuk Kesatuan Kompi Pasukan Pertahanan Pangkalan ( PPP) satuan elit dari Pasukan Gerak Tjepat (PGT) di Surabaya ( 1951), dan membentuk kesatuan serupa di Bandung (1952); dan di Subang (1954), kemudian di Makassar dalam operasi mengatasi pemberontakan Kahar Muzakkar (1956), Palembang, ( 1961), dan baterai PSU PGT di Medan ( 1963). Pak Long juga ikut serta dalam operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat (1962).
Tak hanya di ranah militer, kontribusinya bagi daerah juga sangat besar. Ia berperan dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada era 1970-an dan sebagai pemimpin daerah yang merintis pembangunan di Pulau Belitung.
Siap Diluncurkan dalam Seminar Kepahlawanan
Peluncuran resmi buku Kronik H. AS Hanandjoeddin akan digelar pada Selasa, 16 Desember mendatang di Universitas Bangka Belitung dalam rangkaian Seminar Kepahlawanan H. AS Hanandjoeddin.
Sejumlah tokoh nasional dan daerah memberikan sambutan dalam buku ini, antara lain Menko Kumham Imipas, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., Gubernur Kepulauan Babel, Hidayat Arsani, S.E., Anggota DPD RI, Ir. Darmansyah Husein, Ketua TP2GD Babel, Harwendro Adityo Dewanto, S.H.
“Semoga dengan adanya buku ini, ‘Pak Long’ H. AS Hanandjoeddin dapat disetujui dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” harap Haril.*














