Lewat Sosdiklih, KPU Beltim Dorong Perempuan ‘Aisyiyah Jadi Penjaga Demokrasi dari Akar Rumput
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 1 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BELITUNG TIMUR — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) terus memperkuat peran serta masyarakat dalam menjaga kualitas demokrasi. Kali ini, KPU Beltim menyasar kaum perempuan melalui kegiatan Sosdiklih ( Sosialisasi Pendidikan Pemilih) Berbasis Perempuan bersama pengurus dan anggota ‘Aisyiyah Belitung Timur.
Mengusung tema “Perempuan ‘Aisyiyah, Penjaga Demokrasi Bermartabat dari Akar Rumput”, kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana hangat, interaktif, dan penuh edukasi politik di Aula MTsN Manggar, Belitung Timur, Jum’at (11/09/2026) siang.
Hadir sebagai narasumber, Anggota KPU Kabupaten Beltim Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, Asrikhah, serta Anggota KPU Beltim Divisi Hukum dan Pengawasan, Leny Septriyani.

Dalam kegiatan itu, para peserta diajak memahami bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam menentukan arah demokrasi dan pembangunan daerah, bukan hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Tolak Politik Uang, Jaga Suara dan Harga Diri
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah mengenai bahaya praktik politik uang.
Leny Septriyani menyoroti berbagai dinamika dan studi kasus yang kerap terjadi di lapangan. Ia menegaskan, praktik politik uang, baik dari sisi pemberi maupun penerima, memiliki konsekuensi hukum berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait Pemilu dan Pilkada.
Menurutnya, berbagai alasan seperti “pura-pura lupa” atau “hanya sekadar iseng” tidak serta-merta menggugurkan adanya pelanggaran hukum.
“Suara ibu-ibu di bilik suara itu rahasia, tapi integritas ibu-ibu di luar bilik suara itu nyata. Menolak politik uang adalah bentuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga demokrasi bukan hanya tugas penyelenggara pemilu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Perempuan Bukan Sekadar Lumbung Suara.
Sementara itu, Asrikhah mengajak kaum perempuan ‘Aisyiyah untuk mengubah paradigma dalam memandang posisi perempuan dalam politik.
Menurutnya, pemilih perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai “lumbung suara” atau target kuantitatif dalam setiap kontestasi politik.
Lebih dari itu, perempuan harus tampil sebagai subjek penentu dan agen perubahan (agent of change) dalam menentukan arah kebijakan daerah.
“Keputusan politik yang cerdas dari perempuan akan melahirkan pemimpin berkualitas yang berpihak pada kesejahteraan keluarga, pendidikan, dan fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Ia menilai, perempuan memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran politik keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, pendidikan pemilih berbasis perempuan dinilai penting untuk menciptakan pemilih yang cerdas, kritis, dan berintegritas.
Meski Non-Tahapan, Hak Pilih Tetap Harus Dijaga, dan KPU Beltim juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan hak pilih meskipun saat ini berada dalam masa non-tahapan pemilu.
Pemutakhiran data pemilih, menurut KPU, tidak dapat dilakukan secara mendadak. Karena itu, masyarakat perlu secara berkala memastikan status hak pilihnya melalui kanal resmi KPU.
Dalam hal ini, ibu-ibu ‘Aisyiyah didorong menjadi pelopor di lingkungan masing-masing dengan mengajak keluarga dan masyarakat untuk memastikan seluruh anggota keluarga telah terdata sebagai pemilih.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk memastikan tidak ada warga yang kehilangan hak konstitusionalnya hanya karena persoalan administrasi data pemilih.
‘Aisyiyah Dinilai Mitra Strategis KPU
KPU Beltim mengapresiasi antusiasme dan kedewasaan politik yang ditunjukkan para peserta selama kegiatan berlangsung.

Dengan jaringan dakwah yang mengakar hingga tingkat ranting, organisasi ‘Aisyiyah dinilai memiliki posisi strategis sebagai mitra dalam merawat kesadaran, kecerdasan, dan etika politik masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.
Melalui kolaborasi tersebut, KPU berharap pesan mengenai pemilu yang bersih dan bermartabat tidak berhenti di ruang sosialisasi, tetapi dapat diteruskan oleh para perempuan ‘Aisyiyah kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Demokrasi yang sehat tidak lahir secara otomatis, melainkan dirawat melalui kesadaran yang terus diasah. Terima kasih atas ketulusan ibu-ibu hari ini. Mari kita wujudkan pemilu yang bersih, jurdil, dan bermartabat dari Belitung Timur untuk Indonesia,” pungkas Komisioner Asrikhah selaku narasumber.*
- person
- visibility 55
- forum 0