TANJUNGPANDAN: Komplek perkuburan Tionghoa Pilang, Desa Dukong, Kecamatan Tanjungpandan, di Pulau Belitung saat ini mulai dilaksanakan tradisi ziarah Cheng Beng. Sejak dini hari, Sabtu 28 Maret 2026, para penziarah tampak berada di area pemakaman guna memberikan penghormatan kepada leluhur.
Aktivitas sembahyang bahkan sudah dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Di tengah udara pagi yang masih sejuk, warga datang silih berganti membawa bunga, dupa, lilin, serta berbagai sajian sebagai bentuk bakti dan doa bagi keluarga yang telah berpulang.
Kepala Desa Dukong, Min Tet, mengungkapkan bahwa perayaan Cheng Beng tahun ini diperkirakan berlangsung hingga 5 April mendatang, dengan jumlah peziarah yang terus meningkat setiap harinya.
“Perayaan Cheng Beng ini akan berlangsung sampai 5 April mendatang,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, Cheng Beng juga membawa dampak besar bagi roda perekonomian lokal. Meningkatnya kebutuhan perlengkapan sembahyang mendorong aktivitas jual beli di berbagai sektor.
“Banyak kebutuhan untuk keperluan sembahyang yang dibeli masyarakat, sehingga menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan,” jelas Min Tet.
Pedagang bunga, lilin, dupa, hingga penyedia bahan pangan untuk persembahan merasakan lonjakan permintaan yang cukup tajam. Tidak hanya itu, sektor transportasi dan akomodasi hotel pun ikut bergeliat, seiring dengan kembalinya para perantau ke kampung halaman bahkan Penziarah yang datang bukan saja dari daerah daerah namun juga dari luar negeri untuk melakukan ziarah sembayang kubur leluhur.
Di balik semaraknya aktivitas tersebut, Cheng Beng juga menjadi simbol kuatnya toleransi di Belitung yang dikenal luas sebagai “Negeri Laskar Pelangi”.
“Keberagaman budaya dan agama tampak menyatu dalam suasana saling menghormati yang telah terjaga sejak lama, “kata Min Tet
Ia juga menambahkan. “Cheng Beng juga menjadi bentuk nyata dari toleransi dan kerukunan di Belitung. Masyarakat hidup berdampingan dengan saling menghormati tradisi satu sama lain,” pungkasnya.
“Tradisi ini tidak hanya mempererat ikatan keluarga lintas generasi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas budaya serta keharmonisan sosial masyarakat di Pulau Belitung,” tutup Min Tet.


















