SIMPANG TIGA, BELTIM— Di tengah gegap gempita modernisasi dan derasnya arus digitalisasi, ada satu potongan sejarah penting yang seolah mulai terlupakan: Moektamar Rakjat Indonesia Pulau Belitong, yang digelar pada 12–13 Juli 1947 di Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur.
Sebuah peristiwa monumental yang mencerminkan semangat persatuan dan integrasi rakyat Belitong ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pelaku sejarah dan penulis buku Sejarah Perjuangan Rakyat Belitung, tahun 1924-1950 yang ditulis Drs. Abdul Hadi Adjin bersama Rosihan Sahib, Salim YAH mengingatkan masyarakat bahwa tugu Simpang Tiga bukan sekadar penanda jalan, melainkan monumen sejarah yang menyimpan nilai luhur perjuangan dan kepedulian tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan dari Pulau Belitong.
“Moektamar ini adalah tonggak sejarah. Bukan hanya bentuk fisik perlawanan, tapi wujud nyata pemikiran maju para tokoh Belitong dalam mengintegrasikan diri dengan NKRI, jauh sebelum provinsi ini ada,” ujar Hadi yang merupakan Mantan birokrat senior Belitung Timur atau Sekda Pertama Beltim, Drs. H. Abdul Hadi Adjin,
Sebuah Refleksi, Bukan Sekadar Nostalgia
Moektamar Rakjat Indonesia kala itu adalah ajang yang menyatukan tokoh-tokoh masyarakat, politik, dan pejuang dari seantero Belitong. Dari perhelatan inilah, keluar keputusan bulat bahwa rakyat Belitong bersatu dan teguh dalam pangkuan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan dua tahun sebelumnya, pada 17 Agustus 1945.
Penting dicatat, ini terjadi jauh sebelum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk pada 21 November 2000. Artinya, kesadaran berbangsa dan bernegara rakyat Belitong sudah tumbuh kuat bahkan sejak tiga generasi silam.
Pejuang Gugur, Semangat Tak Boleh Tumbang
Tak bisa dipisahkan dari peristiwa Moektamar adalah rangkaian pertempuran sengit yang terjadi sebelumnya. Pertempuran di Paal Satu, Aik Merbau, Aik Seruk (25 November 1945) serta di Lancor dan Selat Nasik (14 Desember 1945) telah menelan korban sebanyak 21 pejuang lokal, pahlawan sejati yang kini dimakamkan di TMP Ksatria Tumbang Ganti, Perawas, Tanjungpandan.
Mereka gugur, bukan hanya untuk kemerdekaan dari penjajah, tapi untuk menancapkan fondasi kebangsaan yang kini kita nikmati. Namun sayangnya, menurut Hadi, semangat tersebut kini mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda.
“Kita mulai melihat gejala yang mengkhawatirkan. Anak-anak muda mulai memandang para pejuang hanya sebagai ekstremis. Ini sangat berbahaya,” ucapnya prihatin.
Dulu Integrasi, Kini Aspirasi Pemisahan?
Setelah 78 tahun bergabung dalam NKRI dan 25 tahun menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, muncul keresahan tersendiri dari masyarakat Belitong. Banyak yang merasa Pulau Belitong hanya dijadikan pelengkap, bahkan dalam urusan anggaran pusat pun, Belitong kerap “dibawa saat pengajuan, ditinggal saat pencairan.”
Keresahan ini tak hanya soal anggaran. Ada pula permasalahan:Kemiskinan struktural di tengah kekayaan alam melimpah, Penyelundupan hasil tambang, Kegagalan membangun fakultas UBB di Belitung, Dan yang paling menyakitkan: tidak satu pun tokoh lokal yang digelari Pahlawan Nasional
Momentum untuk Bangkit
Melalui momentum peringatan ke-78 Moektamar Rakjat Indonesia, Hadi mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda Belitong, untuk:
1. Meneladani keberanian dan visi para pendahulu
2. Menuntut keadilan pembangunan yang setara
3. Menolak sikap apatis dan bangkit dari keterpinggiran
“Sudah waktunya kita menyadari bahwa Belitong bukan pelengkap. Kita punya sejarah, kita punya identitas, dan kita punya hak untuk diperhatikan!”
Adapun Moektamar 1947 harus menjadi inspirasi, bukan sekadar seremonial. Saatnya Belitong bangkit — dari pinggiran menjadi pusat, dari kenangan menjadi kekuatan.
Untuk mengenang kembali sejarah luar biasa ini, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menginisiasi peringatan rutin Moektamar Rakjat Indonesia setiap 13 Juli — sekaligus mendorong pengusulan Gelar Pahlawan Nasional bagi para pejuang Belitong, salah satunya HAS Hanandjoeddin, Jangan biarkan sejarah besar ini terkubur dalam diam.*
















