Home / Sejarah / Ketika Ditawan Di Mentok, PIM Belitung Kunjungi Bung Karno
?

Ketika Ditawan Di Mentok, PIM Belitung Kunjungi Bung Karno

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: Saat sedang ditawan di Mentok, Partai Indonesia Muda (PIM) Belitung mengunjungi Bung Karno di Mentok. Kehadiran PIM Belitung ini dalam kaitannya kunjungan silatuhrahmi.

Sebuah buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI Bangka Belitung yang ditulis Husnial Husin Abdullah menyebutkan bahwa ketika para pemimpin Besar di Negara Indonesia ditawan di Mentok- Bangka, Delegasi dari Partai Indonesia Muda yang terdiri dari tiga orang yang dipimpin Burhan, KA Nanan, dan Sutan Mirin.

Mereka ingin menemui Bung Karno dalam rangka ikut menyatakan solidaritas dan prihatin atas pengorbanan para pemimpin Besar RI yang diasingkan dan sebagai tawanan di Bangka kala itu.
Kedatangan delegasi PIM Belitung ini sempat mengalami kesukaran.

Ini lantaran penjagaan tentara NICA yang sangat ketat. Namun, berkat kelihaian dari delegasi ini akhirnya mereka berhasil menemui Bung Karno. Mereka pun sempat berdialog dan ramah tamah oleh Bung Karno.

Ihwal penahanan Bung Karno ini dilakukan pada tanggal 6 Februari 1949. Presiden Soekarno dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim atas desakan BFQ diangkut oleh Belanda dari prapat ke Bangka. Mereka kemudian diasingkan diatas puncak gunung Menumbing.

Sementara itu, keberadaan Partai Indonesia Muda ini seperti yang tertulis dalam buku sejarah perjuangan rakyat Belitung 1924-1950, merupakan salah satu upaya untuk mengalang persatuan di kalangan pegawai republik Indonesia.

Guna mempertahankan kemerdekaan, dibentuk Panitia Pegawai Indonesia di Tanjungpandan. Kemudian atas dasar pembentukan “Panitia Pegawai Republik Indonesia = Non Cooperatoren= (PPRI), inilah kemudian pada tanggal 3 Nopember 1946 dibentuk “Partai Indonesia Muda (PIM), yang berkedudukan di tanjungpandan.

Adapun susunan pengurusnya, ketua Boerhan. Sekretaris Umum Arbai Mamat, Sekretaris II Amir Siregar, Bendahara Arsjad Sjamil, Seksi Pemuda Suwarto Hadi dan M Sadiran Seksi Penerangan R Marban Hadisumarto dan P Lubis.*Disarikan, buku Perjuangan Sejarah Bangka Belitung-Husnial Husin Abdullah dan Buku Sejarah Rakyat Belitung 1924-1950.

Baca Juga :  Mbah Moen Sebut Orang Belitung Punya Jasa Besar Bagi Dakwah Islam di Nusantara